Dream Big, Dream Right!

Panggung Impian

[Sebuah cerita dari Elishabeth Carolina Gunawan Lee, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Nama saya Elisha. Saya masih duduk di bangku 1 SMP. Sejak kecil, saya selalu mempunyai berbagai cita-cita dan impian. Saya sangat senang berimajinasi apalagi mengarang cerita sendiri.  Bicara soal cita-cita dan impian, tentu saja saya mempunyai satu impian dan cita-cita.

Impian saya saat ini adalah ingin menjadi Fashion Designer. Mimpi saya menjadi Fashion Designer ini dimulai saat saya mulai bercita-cita menjadi seorang model. Maklum, cita-cita saya dulu memang sangat banyak. Saya mulai tertarik menjadi Fashion Designer saat saya mencoba menonton sebuah acara di Fashion TV. Saat saya mengamati cara-cara model berjalan, saya tidak sengaja mengamati pakaian-pakaian yang dikenakan oleh para model. Pada akhir acara, saya melihat seorang Fashion Designer yang masuk ke panggung runway. Saya mulai tertarik untuk menjadi fashion designer. Sejak saat itu, saya lebih sering menonton fashion tv untuk melihat rancangan-rancangan para designer.

Sejak tertarik menjadi Fashion designer, saya juga menjadi lebih suka ‘mencorat-coret’ kertas. Saya jadi dimarahi mama karena suka buang-buang kertas. Saya juga mulai meng-mix and match pakaian sehingga waktu ganti baju untuk pergi lebih lama (Yah.. kena omelan mama lagi..) Read the rest of this entry »

Poetry

[Sebuah cerita dari Putri Maharani U. (Rani), seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Saya punya mimpi, karena saya punya mimpi maka saya juga punya cita-cita. Saya bercita-cita menjadi seorang penulis. Selain itu, saya juga mengasah bakat saya dengan bermain piano, dengan mengikuti berbagai perlombaan dan konser. Tetapi, bermain piano hanya merupakan hobi. Saya ingin menekuni dalam bidang menulis, terutama novel. Proses awal yang saya lakukan adalah mulai membuat beberapa cerpen. Cerpen tersebut saya publikasikan ke facebook saya maupun blog saya. Dan ternyata cerpen tersebut  mendapatkan respon positif dari pengguna facebook yang menjadi friends dalam akun facebook saya, dari orang dewasa maupun anak SD yang membacanya. Read the rest of this entry »

[Sebuah cerita dari Nina, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

“Kalau sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?”

Pertanyaan di atas pasti sudah sangat familiar bagi kita. Mungkin bagi anda, pertanyaan ini hanyalah sebuah pertanyaan sepele yang biasa ditanyakan kepada anak-anak yang masih lugu dan polos. Mungkin bagi anda, untuk menjawab pertanyaan ini sangatlah mudah. Semudah membalikan telapak tangan anda. Namun, bagi saya pertanyaan ini adalah mimpi buruk! Sejak kecil, ketika ada orang yang menanyakan orang lain atau orang tua saya sendiri, pasti saya akan menjawab, “belum tahu…” yang disertai dengan seulas senyum malu. Saya malu karena saya berpikir bahwa pertanyaan sepele seperti ini saja tidak dapat saya jawab. Sungguh malu rasanya. Read the rest of this entry »

[Sebuah cerita dari Stella Puspita Rani, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Dulu, saat aku masih berumur kurang lebih 9 tahun, aku pernah mempunyai impian untuk menjadi seorang suster di biarawati. Sampai sekarang, aku pun tidak tahu mengapa aku bisa bercita-cita menjadi suster biarawati. Selain bermimpi menjadi seorang suster biarawati, aku juga pernah bermimpi menjadi seorang koki atau juru masak dan memiliki restoran sendiri.

Soal mimpi menjadi koki, sebenarnya aku sangat suka dengan impianku yang satu itu. Aku suka memasak dan itu salah satu hobi kegemaranku. Aku ingin menjadi koki karena aku ingin membantu menghibur orang-orang yang sedang dirudung masalah dengan masakanku. Mimpi menjadi seorang koki terus kupelihara, sampai pada suatu hari mimpiku berubah. Aku bermimpi untuk menjadi seorang guru. Read the rest of this entry »

Colour

[Sebuah cerita dari Angie Abigail, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Cerita ini kami tampilkan sesuai dengan format hasil tulisan yang dikumpulkan oleh Angie dengan tujuan tidak mengurangi keindahan dan usaha luar biasa Angie dalam menuliskan mimpinya. Selamat menikmati.


Read the rest of this entry »

Mangaka Indonesia

[Sebuah cerita dari Catherine, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Mimpiku adalah menjadi seorang mangaka. Mungkin beberapa orang tidak tahu apa itu mangaka. Mangaka adalah orang yang membuat manga atau komik Jepang. Sejak kelas 1 SD, aku mulai kenal dengan saluran kartun Animax di TV berbayar. Di Animax, aku nonton mulai dari Captain Tsubasa sampai sekarang sudah banyak sekali film anime yang aku tonton.  Dulu aku ingin sekali bisa menggambar tokoh-tokoh anime seperti yang ada di Animax, tapi setiap kali aku mencoba menggambar, hasilnya pasti aneh. Hal ini membuat aku berhenti mencoba sampai awal kelas 5 SD. Saat aku mencoba menggambar lagi, ternyata hasil gambarku jauh lebih baik dari dulu. Aku sangat senang dan kembali berniat untuk berlatih menggambar. Read the rest of this entry »

Lionel Messi Wanita

[Sebuah cerita dari Nindya, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Saya memiliki banyak mimpi. Salah satunya adalah menjadi atlet sepakbola. Saya mulai menyukai sepakbola sejak kelas 5 SD. Waktu itu sedang berlangsung kejuaraan sepakbola terbesar, yaitu Piala Dunia 2010. Sebenarnya saat itu, saya hanya ikut-ikutan nonton saja. Setiap pagi, saya ikut membaca ulasan berita di koran tentang pertandingan di hari sebelumnya. Sejak saat itu, saya mulai tertarik dengan seorang pemain asal Argentina, yaitu Lionel Messi.

Sekarang, siapa sih penggemar sepakbola yang tidak tahu siapa itu Lionel Messi?

Ya, saya sangat mengagumi Messi, pemain Argentina yang bermain di klub Barcelona FC, Spanyol. Sejak saat itu, saya mulai sering menonton pertandingan sepakbola di sekolah antar murid laki-laki. Sampai akhir-akhir ini saya menjadi mulai sering menonton pertandingan sepakbola di TV yang baru dimulai pada Pk01:00 dini hari. Saya berpikir : “wah… enak banget jadi atlet! terkenal, bisa keliling dunia pula.”  Saya pun kemudian mulai mencoba-coba bermain bola, seperti menggiring bola. Bila pada pelajaran olahraga di sekolah ada pertandingan futsal, saya menjadi sangat antusias dan senang. Saya pasti langsung minta ikut bertanding. Read the rest of this entry »

[Sebuah cerita dari Ernest Prakasa,  Standup Comedian Indonesia]

Waktu itu tahun 2001.

Saya sedang menggonta-ganti channel TV ketika tanpa sengaja menemukan sebuah stand-up comedy special di HBO berjudul “The Blue Collar Comedy Tour”. Mereka berempat tampil bergiliran menghibur teater yang penuh sesak. Saya terpana oleh ketangkasan mereka di atas panggung. Panggung yang begitu megah, penonton yang begitu banyak, bisa tersihir oleh satu orang yang berdiri penuh kharisma. Saat itu juga saya jatuh cinta pada stand-up comedy.

Blue Collar Comedy Tour: Larry The Cable Guy, Bill Engvall, Jeff Foxworthy, Ron White | fanpop.com

Stand-up comedy memang bukan barang baru diluar sana. Berasal dari Inggris, stand-up comedy sukses booming di Amerika, dengan nama-nama tokoh seperti Bob Hope, George Carlin, Robin Williams, Eddy Murphy, dan masih banyak lagi. Secara sporadis, sebenarnya saya sudah pernah menyaksikan stand-up comedy sebelum Blue Collar tadi, namun dalam format yang lain, seperti di talkshow maupun berbagai awarding film / musik. Sejak melihat Blue Collar, saya terus diganggu pemikiran “kayak beginian di Indonesia bisa ga ya?”. Terus terang saya pesimistis. Sampai kemudian pada taun 2002, muncullah sitcom Bajaj Bajuri di Trans TV. Sukses pula!

Saya mulai berpikir. Hey, wait a minute. Sitcom? In Indonesia? Wow! Kalo sitcom yang notabene “bule banget” bisa diterima masyakarat, harusnya stand-up comedy juga bisa dong? Kan anyway ini semua hanya masalah format penyajian. Konten adalah sesuatu yang bisa di-localize. Karena tidak tau harus berbuat apa, akhirnya saya lebih sibuk browsing di youtube, dan berkenalan dengan banyak comic (istilah untuk stand-up comedian) luar biasa seperti Ellen Degeneres, Louis CK, Russel Peters, & masih banyak lagi. Semakin banyak yang saya tonton, semakin saya penasaran. This MUST happen in Indonesia!

Fast forward ke 2009. Karena penasaran, saya akhirnya mencoba membuat stand-up saya sendiri. Saya buat naskah lalu saya shoot dengan webcam, lalu upload ke youtube. Beberapa teman saya mintai komentar. Hasilnya ya tentu saja butut, hahaha :p Karena risih sendiri, akhirnya video-video itu saya delete dari youtube. Dan, lagi-lagi, hasrat saya terhadap stand-up comedy kembali terpendam. Read the rest of this entry »

[sebuah cerita dari Jessica Farolan]

Semenjak saya mengalami depresi beberapa tahun lalu, saya memiliki impian untuk menemani orang yang kesepian (baca di “Menemani Mereka Yang Kesepian“). Akan tetapi, selain memiliki impian tersebut, saya juga menjadi lebih menghargai apa itu rasa bahagia. Sebagian orang menganggap rasa bahagia adalah hal sulit sekali rasanya untuk diraih dan dipertahankan. Sebagian orang bisa merasa bahagia dengan sangat mudah dan saya ingin membuat diri saya dan orang lain sebanyak mungkin menjadi bagian dari sebagian orang ini. Hal ini yang kemudian membuat saya mencari sejumlah cara dan saya bertemu dengan apa yang kita kenal dengan stand up comedy.

Saat itu, sekitar bulan Juli 2011 (catatan: 2011 memang bukan masa-masa yang sebegitu indahnya untuk dilalui bagi saya), adik sepupu saya mengatakan bahwa saya harus melihat video Raditya Dika. Dia menceritakan isi video itu sambil tertawa lepas, terpingkal-pingkal. Saya pun sedikit tertawa dengan cerita adik saya tersebut. Tetapi, saya tidak benar-benar berniat mencari tahu video tersebut. Sekitar bulan Agustus 2011, sambil makan siang di depan komputer saya di rumah, saya usil mencari video tersebut di Youtube. Hasil menonton video tersebut = tersedak nasi 3 kali + tertawa geli sendirian di depan komputer. I feel much happier after I saw 3 videos of Raditya Dika talking to people in a cafe. Saat itu, I have no idea kalau itulah stand up comedy, bahwa Raditya Dika sedang melakukan stand up comedy. Setelah menonton video Pandji Pragiwaksono barulah saya mulai mengenal istilah stand up comedy dan mencari tahu apa itu stand up comedy. Di bulan itu, saya puas tertawa menonton mereka dan beberapa stand up comedian (comic) lain, seperti Ernest Prakasa, Reggy Hasibuan, Asep Suaji. I even saved their videos. Read the rest of this entry »

[sebuah cerita dari Sarah Reziwon Tinayo]

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.. (Laskar Pelangi, Nidji)

 

Kalimat di atas merupakan sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nidji dan didaulat menjadi theme song film Laskar Pelangi. Sebuah film yang akhirnya bisa menginspirasi banyak orang penontonnya untuk tidak takut bermimpi dan mengerjarnya. Tapi, bukan film Laskar Pelangi yang mau saya bahas. Saya mau membahas tentang kata “mimpi”. Sebuah kata sederhana yang saya yakin kalau setiap orang memilikinya. Tidak ada yang salah dengan mimpi seseorang. Ingin menaklukkan dunia dengan menjadi seorang ilmuwan terkemuka, boleh. Menjadi artis terkenal yang menyabet banyak penghargaan, silakan. Atau mungkin, justru bermimpi untuk memiliki sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak jalanan? Jelas, itu sebuah mimpi yang mulia. Semua orang pernah bermimpi. Dan pasti memiliki mimpi yang masih ingin dicapai, termasuk saya.

Bicara soal mimpi, saya sebenarnya punya segudang mimpi. Mulai dari mimpi yang sederhana, sampai yang benar-benar kompleks, bahkan saya sampai membuat to-do lists untuk menggapainya. Ada pula mimpi yang jauh dari jangkauan. Jauh dari jangkauan karena akhirnya saya menyadari bahwa real self dan ideal self yang tidak selaras. Di tulisan ini, sederhana saja. Saya mau berbagi soal transformasi mimpi saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang menjadi mahasiswi Psikologi. Mimpi yang telah dibentuk sejak kecil dan terus mengalami pembaharuan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman.

Sejak SD, saya sering sekali ditanya, “kamu kalau udah gede, mau jadi apa sih?”. Jujur, saya senang sekali mendapat pertanyaan itu. Karena untuk menjawabnya, saya tidak perlu berpikir susah-susah dan menganalisa setiap kata yang akan keluar dari mulut saya. Saya merasa bebas untuk menceritakan profesi (atau lebih tepatnya pekerjaan) yang saya idam-idamkan. Perjalanan mimpi saya dimulai ketika saya bertekad untuk menjadi seorang dokter bedah. Mimpi ini muncul karena keterlibatan seorang dokter bedah dalam hidup saya selama setahun. Setelah itu saya selalu bermimpi dan bercita-cita untuk mengabdikan diri pada masyarakat di bidang kesehatan, khususnya dalam bidang operasi. Read the rest of this entry »

Design a site like this with WordPress.com
Get started