Dream Big, Dream Right!

Inspired By LOVE

[sebuah cerita dari Dwiana Wahyudi]

Will You Marry Me?

 

In a while, in a word,

Every moment now returns.

For a while, seen or heard,

How each memory softly burns.

Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,

How they led me to this place…

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya ingat saya sedang berjalan menyeberangi jalan dari Plaza Semanggi menuju kampus bersama seorang teman. Pembicaraan saat itu adalah pembahasan mengenai rencana kami setelah lulus menjadi Sarjana Psikologi. Ketika dia akhirnya bertanya, “ abis lulus mau ngapain, wie?”. Saya menatapnya sebentar dan menjawab, “ kayanya seru deh kalo punya WO”.

Saya ingat ada jeda sesaat setelah saya mengucapkan itu sebelum akhirnya teman saya membombardir saya dengan berbagai pertanyaan, termasuk bertanya-tanya apa hubungannya Psikologi dengan Wedding Organizer.

Yah, saya tidak tahu pasti apakah secara statistik ada korelasi antara Psikologi dengan Wedding Organizer. Tapi bicara mengenai mimpi, saya yakin saya boleh bermimpi mengenai apapun kan? Seperti teman saya boleh bermimpi memiliki sebuah café yang menjual jus sehat dan dessert buatannya sendiri. Tidak ada yang melarang kan?

Bicara tentang pernikahan, pernikahan selalu menjadi acara yang menakjubkan bagi saya. Saya, yang bukan pecinta pesta, selalu menikmati berada di dalam acara pernikahan. Bukan hanya sekedar tamu, saya hampir selalu berada di sekitar pengantin dan keluarganya. Entah ada apa dengan keluarga saya, namun sejak saya masih SD, saya sudah ditugaskan mengiringi pasangan-pasangan keluarga saya yang akan menikah. Baju putih, make up tebal, tatanan rambut kaku dan sepatu berhak, sudah menjadi santapan rutin dari tahun ke tahun.

Mulai dari menjadi pengantin kecil ketika saya masih kecil, hingga menjadi pendamping pengantin ketika dirasa julukan pengantin kecil sudah tidak lagi cocok untuk saya yang sudah tidak lagi kecil, sudah saya jalani selama lebih dari 15 tahun. Saya tidak pernah menghitung berapa kali saya menjadi pengantin kecil, pendamping pengantin atau maid of honor, tapi saya menikmati SETIAP prosesnya.

Entah sejak kapan saya suka berada di salon pengantin milik tante saya, melihat perubahan yang bisa dilakukan oleh kuas dan berbagai benda warna-warni di kotak tante saya, kepada wajah calon pengantin yang akan saya dampingi. Entah sejak kapan saya suka bersolek dan belajar menggunakan soft lense agar riasan mata saya lebih terlihat ketika saya menjadi pengantin kecil.  Entah sejak kapan saya mulai menikmati setiap gambar di majalah pengantin, yang walaupun 90% isinya adalah iklan, tapi sungguh dikemas dengan menarik. Entah sejak kapan saya diam-diam menggambar baju-baju pengantin juga merancang ulang design salon tante saya itu agar lebih ‘masa kini’. Entah sejak kapan, tapi saya masih melakukannya hingga sekarang. Tentu ditambah dengan rajin browsing di blog-blog tentang wedding di internet.

Bertahun-tahun sejak perbincangan spontan di jalan itu terjadi.

Bertahun-tahun saya mulai beralih profesi dari pengantin kecil menjadi penerima tamu, karena katanya sudah pantas menjadi pengantin beneran, bukan lagi pengantin kecil.

Bertahun-tahun pula saya tidak pernah serius memikirkan mimpi saya itu.

Seperti cinta yang akhirnya membawa dua orang ke pernikahan. Saya baru benar-benar jatuh cinta dengan pernikahan sekitar dua tahun yang lalu. Ketika saya sudah hampir lulus, ketika saya sudah mulai memahami interaksi antar manusia melalui kacamata Psikologi. Saya mulai menikmati proses kedekatan antara pengantin dengan pendamping pengantinnya. Bukan hanya menikmati, tapi MEMAKNAI. Malam-malam persiapan, menginap bersama, mencoba pakaian, gladi resik, diselingi dengan menjadi ‘nyamuk’ dalam kencan kedua calon pengantin, semuanya sungguh menyenangkan. Mengapa? Entahlah. Jangan tanya alasan logis pada saya, karena saya berpikir dengan rasa. Dan semua kegiatan itu terasa menyenangkan untuk saya.

Merasakan CINTA. MeMAKNAi cinta. Mungkin itu penyebabnya.

Bagi saya, pernikahan adalah sebuah langkah besar yang butuh keberanian yang besar juga. Pernikahan tidak pernah menjadi urusan sepele, di manapun. Menikah berarti menggabungkan dua orang, dua keluarga, dua perbedaan menjadi satu. Bukan membuatnya menjadi sama, tapi membuat dua hal yang berbeda menemukan celah untuk saling bersinggungan namun tidak saling berbenturan. Sebuah seni yang sangat indah yang butuh dorongan dan kesabaran luar biasa untuk memulainya.

Sampai di pertengahan tahun 2011,

Sepupu saya kembali menawari saya mendampinginya di acara pernikahannya. Saya, tanpa ragu, menyambutnya dengan bahagia. Untuk saya, ini adalah sebuah nostalgia yang menyenangkan. Dan siapa sangka tawaran inilah yang membuka jalan menuju mimpi saya.

Satu pernikahan di bulan Juni disambung dengan pernikahan lainnya di bulan Oktober, memantapkan niatan saya untuk mewujudkan mimpi saya itu. Seperti yang dikatakan dalam The Secret, kita bisa menarik alam semesta dengan pikiran kita.

Pendek kata, di sinilah saya, dengan sebuah EO bernama AI ORGANIZER. Yang awalnya didirikan oleh sepupu saya dan akhirnya kami urus bersama-sama. Pelan-pelan membantu mewujudkan kebahagiaan-kebahagiaan yang diinginkan setiap orang. AI yang berarti cinta, menjadi lambang cinta yang kami bawa ketika bekerja. Menjadi lambang cinta yang kami jaga ada di setiap acara. Kami mengerjakan dengan cinta karena kami melihat bahwa cintalah yang mendorong mereka meminta bantuan kami untuk membantu mereka di acara khusus ini.

Saya kadang tertegun sendiri, bahwa yang saya lakukan hari ini berawal dari obrolan sepintas lalu yang dilakukan bahkan di jalan raya. Namun yang lebih membuat saya tertegun adalah betapa ternyata saya mencintai kegiatan ini. Menjadi WO bukanlah sebuah pekerjaan bagi saya. Ini sebuah kegemaran, sebuah kesempatan bagi saya untuk berbagi moment bahagia dengan dua orang yang sedang sangat jatuh cinta dan dua keluarga yang sedang sangat bahagia.

Jika memang kita mampu memanggil semesta dengan pikiran kita. Mungkin ini adalah hasil tarikan alam bawah sadar saya dengan semesta. Saya yang senang dengan jadwal dan detil. Saya yang senang mendengar cerita cinta. Saya yang mellow dan mudah sekali menangis. Saya yang senang dengan acara pernikahan. Memanggil saya untuk mengurusi pernikahan orang-orang. Dan apakah saya bahagia?

I Do. J

Every touch,

every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I’ll,

Now be treasuring everywhere.

And if life should come to just one question,

Do I hold this moment true?

No trace of sadness,

Always with gladness…

‘I DO…’

 

 

Lyric : Two Words by Leah Salonga

Comments on: "Inspired By LOVE" (1)

  1. William SB said:

    wah sebuah cerita yang bikin gwa mellow dan jadi pengen nikah… hahaha… semangat yak wi.. gwa doakan WO loe ini menjadi salah satu WO papan atas di Indonesia.. dan gwa harap, nnt AI ORGANIZER yang membantu gwa ya… hehehehe… kapan itu?? doakan saja! hahaha… great stories, great writing and amazing dream!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: