Dream Big, Dream Right!

[Sebuah cerita dari Timotius Prassanto]

Benar juga ya, ketika satu mimpi kita sudah terwujud maka kita seakan kehabisan kata-kata untuk menceritakannya. Bahkan dulu gue pernah menulis bahwa gue ada ketakutan tersendiri; ketika satu mimpi besar telah terwujud, maka akan adakah mimpi-mimpi lainnya? Gue takut bahwa gue harus menjalani sisa hidup tanpa mimpi jika gue tidak bisa menemukan mimpi(-mimpi) baru dalam hidup gue. Tapi ya berbicara pengalaman, ternyata mimpi(-mimpi) baru itu akan datang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya roda kehidupan. Untuk kali ini, persilahkanlah gue untuk menceritakan salah satu mimpi besar dan terpendam yang baru saja terwujud.

Di umur gue yang kesebelas, seperti anak-anak SD lainnya yang memiliki idola baik itu artis maupun atlet dunia olahraga, gue pun memiliki idola gue sendiri. Berhubung pada umur itu gue lagi giat-giatnya main sepak bola, maka serasa seluruh dunia masa kecil gue pada waktu itu hanya berkisar tentang sepak bola. Baju-baju jersey bola yang dibeliin nyokap gue dari Mangga Dua, bola sepak yang selalu hadir di kamar gue, sepatu bola serta tas khusus kalau gue mau main sepak bola bersama teman-teman. Dulu gue memiliki tim sepak bola sendiri bersama teman-teman seangkatan, berseragam kuning kami menamakan tim kami sebagai tim “Abstrak”. Ya maklum lah ya namanya juga anak SD kan ahahaha. Sepertinya seluruh atribut yang mendukung hobi gue dalam bersepak bola telah lengkap, hanya satu yang kurang; idola. Teman-teman gue yang lain sudah memiliki idolanya sendiri-sendiri; Real Madrid, Barcelona, Juventus, Fiorentina, Arsenal, dan lain-lain. Gue?

Di suatu malam minggu gue melihat satu pertandingan sepak bola menarik di salah satu stasiun televisi swasta. Satu tim yang menggunakan seragam atasan merah dan bawahan hitam sedang mendominasi pertandingan, dan mereka menang dengan mudah. Wah, siapa itu nama timnya? Manchester United Football Club. Hm, calon yang bagus untuk menjadi idola gue. Minggu-minggu berikutnya, setiap pertandingan yang dimainkan oleh mereka pun gue tunggu-tunggu dan selalu gue tonton. Betapa senangnya gue ketika mereka selalu menang dalam setiap pertandingan. Sayang pada musim itu, 1997-1998, mereka tidak memenangi Liga Utama Inggris. Tapi bagi gue yang sudah terlanjur mengenal setiap pemainnya, maka rasa penasaran gue pun membimbing gue untuk kembali mengikuti jejak mereka di musim selanjutnya.

Di musim 1998-1999, ternyata sepak terjang mereka makin menggila. Paul Scholes, David Beckham, Ryan Giggs, Roy Keane, Dwight Yorke, Andy Cole, Nicky Butt, Peter Schemeichel seakan menjadi tim terbaik di dunia. Setiap kejuaraan yang mereka ikuti pada musim tersebut selalu mereka menangi; FA Cup, Intercontinental Cup, Liga Utama Inggris. Puncaknya adalah kemenangan dramatis mereka di final Liga Champions. Tertinggal 0-1 dari Bayer Muenchen selama 90 menit, bokap gue yang nonton bareng gue pun sudah siap mau mematikan TV dan tidur. Gue yang masih tidak percaya bahwa MU akan kalah, hanya bisa mangap ketika Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer yang baru masuk dari kursi pemain cadangan masing-masing mencetak satu gol untuk membalikkan kedudukan menjadi 2-1 dalam menit-menit terakhir extra time. Mereka menang! Kemenangan mereka ini tidak saja membuat mereka mencetak sejarah sebagai satu-satunya klub Liga Inggris yang memperoleh Treble Winner (FA Cup, Liga Utama Inggris, Liga Champions), tetapi juga membuat mereka ketambahan satu fans baru; gue!

Semenjak itu pun, setiap tahun gue tidak melewatkan setiap pertandingan mereka yang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Betapa kecewa beratnya gue ketika ada satu-dua tahun ketika semua televisi swasta di Indonesia tidak mendapatkan ijin untuk menayangkan Liga Utama Inggris. Tidak apa, masih ada media internet dan koran untuk mengikuti perkembangan mereka. Gue pun mulai mencari-cari kesamaan antara gue dengan fakta-fakta klub ini, seperti fakta bahwa Sir Alex Ferguson telah melatih klub ini selama gue hidup di dunia karena memang pertama kali dia melatih klub ini adalah ketika gue lahir di tahun 1986! Pemain demi pemain pun berganti, The Golden Classyang menjadi pahlawan masa kecil gue pun satu persatu pensiun atau dijual ke klub lain. Tapi siapa pun pemainnya, yang gue dukung adalah tim sepak bola ini.

Ketika salah satu mimpi gue tidak sengaja terwujud (pergi ke Taize), itu adalah mimpi pertama gue yang terwujud dalam hidup gue. Setelah itu pun gue mulai berani menetapkan mimpi-mimpi gue yang pada waktu itu walaupun nyeleneh, tapi gue tetap optimis barangkali suatu hari terwujud. Setelah berhasil melihat menara Eiffel dengan mata kepala sendiri, gue pun mengarahkan mimpi gue ke kota lain. Tidak tanggung-tanggung, London dan Manchester menjadi mimpi gue selanjutnya. London karena simply gue mau melihat Big Ben dan Manchester ya karena gue ingin berada lebih dekat dan siapa tahu bisa menonton langsung pertandingan para pahlawan masa kecil gue. Ketika jalan menuju London telah terbuka, gue pun membuat mimpi gue menjadi lebih spesifik; nonton MU di Old Trafford!

Sebenarnya ketika gue diterima menjadi Vincentian Volunteer, mimpi itu terwujud bahkan lebih baik dari yang gue mimpikan; gue ditempatkan di kota Manchester untuk bekerja dan tinggal selama 10 bulan. Setelah menerima berita itu, rasanya segala macam dan rupa perasaan positif yang ada di seluruh alam semesta merasuk dalam diri gue. Masih di Jakarta dua bulan sebelum keberangkatan, gue bisa melihat diri gue sendiri tersenyum dan bahagia hampir setiap harinya. Terbayang 10 bulan hidup di kota Manchester, lebih dekat dengan pahlawan-pahlawan masa kecil gue, dan akan banyak kesempatan untuk menonton mereka langsung di Old Trafford. Namun perasaan positif itu tidak bertahan lama ketika gue menerima kabar bahwa penempatan gue dipindah ke Glasgow😦 Sedih, kecewa, sedih, marah, dan segala macam rupa perasaan negatif yang ada di alam semesta tiba-tiba menggantikan perasaan positif tadi. Tapi ya, setidaknya gue masih berada di satu pulau dan masih bisa ke Manchester walaupun harus merogoh kocek lebih dalam untuk transportasi.

Mungkin hal tersebut yang merasuki alam bawah sadar gue selama 9 bulan gue berada di Glasgow ini; gue sudah tidak bisa menghitung berapa kali gue bolak-balik Glasgow-Manchester. Karena gue bener-bener suka berada di kota Manchester. Jalan-jalan di tengah kota dan melihat banyak orang memakai jersey merah khas MU, membuat gue merasa seperti di rumah dan ketemu saudara! Apalagi dengan koran harian yang selalu memberitakan tentang tim kesayangan gue itu, dimana berita tersebut tidak terlalu diekspos di koran harian di Glasgow.

Kesempatan utnuk mewujudkan mimpi untuk menonton di Theatre of Dreams itu pun sebenarnya telah datang, di hari Selasa 7 Desember 2010. Melawan Valencia di babak kualifikasi Liga Champions, dimana tiket telah gue pegang namun gue harus kembali menelan kekecewaan yang besar sambil menitikkan air mata ketika kota Glasgow lumpuh karena salju dan tidak ada transportasi keluar dan masuk kota gara-garaTragedi Salju Tujuh Desember.

Namun hal tersebut tidak membuat gue berhenti berusaha. Betapa paniknya gue ketika mengetahui bahwa tiket sisa pertandingan mereka di musim ini telah terjual habis! Masih sambil mengutuk salju yang menjadi biang hari gelap Tragedi Salju Tujuh Desember itu, gue menemukan bahwa akan ada pertandingan perpisahan untuk Gary Neville dan tiketnya masih tersisa banyak. Engga pake lama, tiket pun sudah di tangan.

Hari pertandingan yang ditunggu-tunggu pun tiba, Selasa 24 Mei 2010. Bahkan gue telah berada di Manchester sejak hari Sabtu (ceritanya biar engga ada halangan lagi untuk menuju kota ini). Hari Selasa itu, demi menghemat maka gue dan seorang rekan memutuskan untuk berjalan kaki dari pusat kota ke Old Trafford. Setelah gue pernah berjalan kaki selama 4 jam non-stop menuju Loch Ness, maka jalan kaki satu jam ke Old Trafford ini engga ada apa-apanya. Kalau dipikir-pikir, gue mewujudkan mimpi masa kecil gue dengan berjalan kaki!

Jalan kaki itu menurut gue adalah ekspresi yang tepat untuk menggambarkan usaha gue yang tarik-ulur menuju Old Trafford. Tidak kesampaian kerja dan tinggal di kota Manchester, rugi 50 poundsterling karena Tragedi Salju Tujuh Desember, rasanya setiap jalan menuju mimpi itu tidak pernah mudah dan selalu penuh dengan halang rintang. Namun ketika sekalinya terwujud, wuih! Tidak ada kata-kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain kata “bahagia“.

*bersambung ke Part of Old Trafford

[dipublish ulang dari blog Elmo’s Avenue dengan judul yang sama]

Comments on: "Jalan Kaki Mewujudkan Mimpi" (1)

  1. […] [lanjutan dari Jalan Kaki Mewujudkan Mimpi] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: