Dream Big, Dream Right!

Panggung Impian

[Sebuah cerita dari Elishabeth Carolina Gunawan Lee, seorang pelajar dari SMP Santa Ursula Jakarta, ditulis dalam rangka bagian aktivitas dalam pelatihan “The Incredible Me”]

Nama saya Elisha. Saya masih duduk di bangku 1 SMP. Sejak kecil, saya selalu mempunyai berbagai cita-cita dan impian. Saya sangat senang berimajinasi apalagi mengarang cerita sendiri.  Bicara soal cita-cita dan impian, tentu saja saya mempunyai satu impian dan cita-cita.

Impian saya saat ini adalah ingin menjadi Fashion Designer. Mimpi saya menjadi Fashion Designer ini dimulai saat saya mulai bercita-cita menjadi seorang model. Maklum, cita-cita saya dulu memang sangat banyak. Saya mulai tertarik menjadi Fashion Designer saat saya mencoba menonton sebuah acara di Fashion TV. Saat saya mengamati cara-cara model berjalan, saya tidak sengaja mengamati pakaian-pakaian yang dikenakan oleh para model. Pada akhir acara, saya melihat seorang Fashion Designer yang masuk ke panggung runway. Saya mulai tertarik untuk menjadi fashion designer. Sejak saat itu, saya lebih sering menonton fashion tv untuk melihat rancangan-rancangan para designer.

Sejak tertarik menjadi Fashion designer, saya juga menjadi lebih suka ‘mencorat-coret’ kertas. Saya jadi dimarahi mama karena suka buang-buang kertas. Saya juga mulai meng-mix and match pakaian sehingga waktu ganti baju untuk pergi lebih lama (Yah.. kena omelan mama lagi..)

Saat saya mendaftar SMP, saya melihat sebuah ekstrakulikuler yang menarik. Ternyata, ada ekskur Fashion Design di SMP tersebut. Saya pun sangat senang dan semakin antusias untuk masuk SMP tersebut. Alhasil, saya berhasil masuk SMP tersebut dan bisa mengikuti ekstrakulikuler Fashion Design. Sebelumnya, saya sedikit khawatir karena tidak bisa mengikuti ekskur Fashion Design karena tidak mendapat tempat. Banyak juga rumor yang beredar jika murid-murid Ekstrakulikuler Fashion Design mendapat banyak PR. Tapi saya tidak peduli akan rumor tersebut. Saya hanya ingin menggapai mimpi saya menjadi Fashion Designer.

Pada saat hari pertama, guru ekstrakulikuler saya mengajak saya untuk membuat sebuah gambar bebas. Saya piker itu adalah hal yang sepele. Tapi guru saya mengatakan bahwa gambar-gambar tersebut akan ditunjukkan kepada seorang psikolog. Maka, saya pun langsung menggambar sebaik mungkin.

Secara perlahan-lahan, saya belajar bagaimana cara menggambar design yang baik. Misalnya, belajar membuat proporsi, yaitu rangka dari gambar, lalu teknik-teknik mewarnai yang baik. Saat mulai belajar menggambar, saya menyadari bahwa banyak teman-teman saya yang lebih mahir daripada saya. Namum saya tidak putus asa dan terus mencoba untuk menghasilkan suatu desain pakaian yang terbaik yang bisa saya buat. Walaupun tidak selalu sebaik yang saya harapkan, tapi saya tetap berusaha.

Selain belajar cara menggambar yang baik, saya juga diajari berbagai teori, contohnya tentang kain tenun dan kain batik. Saya juga pernah diajak menonton Fashion Show pakaian karya designer Indonesia. Ternyata saya juga diajak untuk mencintai karya Indonesia serta budaya-budayanya, seperti batik dan tenun.

Pada akhir semester, diadakan evaluasi singkat. Saya pun belajar dengan sebaik-baiknya. Hasil evaluasi tersebut dibagikan pada saat semester baru. Saya cukup bangga dengan nilai saya. Saya bisa mendapatkan nilai yang baik dengan cara yang jujur. Namun, karena terlalu banyak libur, tangan saya menjadi ‘kaku’ karena tidak terlatih untuk menggambar design. Saya sempat putus asa sebentar, tapi seorang teman menghibur saya dan mengembalikan semangat saya untuk mencoba mengulang menggambar. Saya pun terus mencoba dan akhirnya tangan saya mulai terbiasa lagi. Gambar-gambar saya mulai mengalami kemajuan.

Pada beberapa bulan sebelum akhir tahun, kelas ekstrakulikuler kami mempersiapkan untuk stand open house. Saya dan teman-teman kelas pemula dan lanjutan diminta membuat design pin untuk dijual pada acara tersebut. Saya pun mulai menggambar pin. Saat saya melihat hasil milik teman saya yang lain, saya mulai minder. Tapi teman saya mengatakan bahwa ia menyukai pin-pin design saya. Saya pun mulai bersemangat lagi. Pada pertemuan terakhir, diadakan voting pin yang akan dicetak. Sayang sekali, saya tidak hadir saat itu. Tapi pada lusa setelah hari itu, salah satu teman saya yang satu ekstrakulikuler dengan saya memberitahukan pada saya bahwa pin saya terpilih untuk dicetak, walaupun dalam jumlah sedikit karena votenya sedikit. Saya tetap bersyukur karena pin saya terpilih untuk dicetak, karena hanya 4 desain pin yang terpilih.

Selain belajar dari ekstrakulikuler sekolah, saya juga belajar melalui mama saya. Walaupun mama saya bukan seorang Fashion Stylist atau seorang Fashion Designer, tapi mama saya adalah seorang wanita yang luar biasa karena memiliki ‘insting’ mode yang sangat bagus. Biasanya beliau membantu saya meng- mix and match pakaian. Suatu kalimat yang saya ingat dari mama saya, yaitu “warna hitam membuat wanita tampil lebih elegan”. Dan ternyata kalimat itu benar. Di lemari saya, saya memiliki 21 potong pakaian warna hitam, karena setiap ingin membeli pakaian baru, saya selalu mengingat kalimat mama saya tersebut. Saat Meng- mix and match pakaian, saya selalu meminta pendapat pada mama saya dengan permintaan pendapat tersebut, saya menjadi lebih banyak belajar.

Suatu ketika mama saya pernah meminta saya untuk mendesain baju untuknya untuk ulang tahun nenek buyut saya. Segera saja saya membuat design gaun untuk beliau, dan ketika rancangan tersebut jadi, mama saya begitu menyukai gaun tersebut. Saat ini, gaun tersebut masih disimpan oleh beliau.

Lama setelah itu, sepupu perempuan saya meminta saya untuk membuatkan rancangan gaun pesta untuknya. Saya sangat senang karena saya suka mendesain gaun pesta. Kemudian, mama saya meminta saya untuk membuat rancangan lagi. Tanpa saya sadari, saya juga melatih kemampuan desain saya.

Mungkin, tangga yang harus saya tempuh masih jauh. Saya mungkin baru meraih sedikit. Saya mungkin baru sepertigapuluhdua langkah menuju kesuksesan. Tapi, saya yakin dengan dorongan dari orang-orang disekitar saya, dengan berlatih dan berlatih terus, saya pasti bisa menggapain impian tersebut.

Comments on: "Panggung Impian" (1)

  1. wooow mimpi yg luar biasa dan kerja keras yg bagus! terus yakin dan percata yah. i know you can!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: