Dream Big, Dream Right!

[sebuah cerita dari Sarah Reziwon Tinayo]

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.. (Laskar Pelangi, Nidji)

 

Kalimat di atas merupakan sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nidji dan didaulat menjadi theme song film Laskar Pelangi. Sebuah film yang akhirnya bisa menginspirasi banyak orang penontonnya untuk tidak takut bermimpi dan mengerjarnya. Tapi, bukan film Laskar Pelangi yang mau saya bahas. Saya mau membahas tentang kata “mimpi”. Sebuah kata sederhana yang saya yakin kalau setiap orang memilikinya. Tidak ada yang salah dengan mimpi seseorang. Ingin menaklukkan dunia dengan menjadi seorang ilmuwan terkemuka, boleh. Menjadi artis terkenal yang menyabet banyak penghargaan, silakan. Atau mungkin, justru bermimpi untuk memiliki sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak jalanan? Jelas, itu sebuah mimpi yang mulia. Semua orang pernah bermimpi. Dan pasti memiliki mimpi yang masih ingin dicapai, termasuk saya.

Bicara soal mimpi, saya sebenarnya punya segudang mimpi. Mulai dari mimpi yang sederhana, sampai yang benar-benar kompleks, bahkan saya sampai membuat to-do lists untuk menggapainya. Ada pula mimpi yang jauh dari jangkauan. Jauh dari jangkauan karena akhirnya saya menyadari bahwa real self dan ideal self yang tidak selaras. Di tulisan ini, sederhana saja. Saya mau berbagi soal transformasi mimpi saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang menjadi mahasiswi Psikologi. Mimpi yang telah dibentuk sejak kecil dan terus mengalami pembaharuan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman.

Sejak SD, saya sering sekali ditanya, “kamu kalau udah gede, mau jadi apa sih?”. Jujur, saya senang sekali mendapat pertanyaan itu. Karena untuk menjawabnya, saya tidak perlu berpikir susah-susah dan menganalisa setiap kata yang akan keluar dari mulut saya. Saya merasa bebas untuk menceritakan profesi (atau lebih tepatnya pekerjaan) yang saya idam-idamkan. Perjalanan mimpi saya dimulai ketika saya bertekad untuk menjadi seorang dokter bedah. Mimpi ini muncul karena keterlibatan seorang dokter bedah dalam hidup saya selama setahun. Setelah itu saya selalu bermimpi dan bercita-cita untuk mengabdikan diri pada masyarakat di bidang kesehatan, khususnya dalam bidang operasi.

Namun ketika saya memasuki usia SMP, mimpi saya untuk menjadi seorang dokter bedah pun pelan-pelan “runtuh”. Mengapa? Hal ini bermula dengan hobi baru saya, yaitu membaca komik. Saya senang sekali membaca komik Detektif Conan (meskipun tidak semuanya saya baca dan miliki). Komik tersebut memberikan sebuah kesan yang mendalam sehingga membuat mimpi saya untuk menjadi seorang dokter bedah bertransformasi menjadi seorang detektif. Dua jenis profesi yang sangat jauh berbeda. Mimpi baru untuk menjadi seorang detektif tidak bertahan lama. Saya tidak bisa mempertahankan mimpi itu. Penyebabnya adalah saya tidak dapat berpura-pura menjadi orang lain. Saya menganggap bahwa menjadi detektif harus memiliki sikap yang misterius. Saya berusaha untuk menampilkan sikap misterius tersebut, namun berperilaku layaknya orang lain ternyata tidak mudah.  Sikap itu bukanlah diri saya, bahkan bertentangan dengan gaya saya. Akhirnya mimpi menjadi menjadi detektif pun sirna ditelan waktu. Setelah itu, saya mengalami fase “kekosongan”. Tidak ada lagi mimpi atau cita-cita yang ingin saya raih. Saya hanya menjalani hidup tanpa memiliki tujuan. Just let it flow.

Keadaan ini terus saya jalani sampai saya masuk SMA. Berseragam putih abu-abu, memunculkan kembali mimpi untuk menjadi seorang dokter. Bedanya adalah saya bermimpi bukan hanya sekedar menjadi  dokter bedah biasa, tapi lebih spesifik lagi menjadi seorang dokter bedah plastik. Beberapa kali (bahkan mungkin sering) orang-orang tertawa mendengar mimpi saya. Ada yang dengan iseng meledek, “plastik apaan? Plastik ember? Hahahaha”. Saya sendiri tetap mencoba bersikap santai saja dengan cemoohan dari lingkungan sekitar saya. Toh, mereka yang meledek belum tentu lebih hebat dari saya. Tapi tidak semua orang dikeliling saya meledek mimpi saya itu, ada juga yang mendukung dan memberi semangat.

Ternyata mimpi menjadi dokter bedah plastik pun tidak bertahan lama. Mimpi menjadi dokter bedah plastik bertransformasi kembali menjadi seorang diplomat. Ya, saya pernah bercita-cita menjadi seorang diplomat ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Mimpi itu muncul saat pelajaran Kewarganegaraan yang membahas tentang hubungan diplomasi. Saya menganggap diplomat sebagai suatu profesi yang keren. Untuk mencoba mewujudkan mimpi tersebut, saya berusaha untuk mendaftar kuliah jurusan Ilmu Hubungan Internasional pada beberapa PTN. Akan tetapi semua usaha saya berujung pada kegagalan. Saya tidak diterima masuk dan mimpi itu pun kemudian kandas.

Gagal diterima di jurusan HI, saya memutuskan untuk kuliah di jurusan Psikologi. Awalnya, saya pikir probabilitas untuk diterima di Fakultas Psikologi PTS ini sangat kecil. Karena, saya bukan orang yang unggul di akademik dan (katanya) masuk ke Fakultas Psikologi PTS ini cukup susah. Jadi, saya memutuskan untuk memilihi 2 jurusan sekaligus saat ikut tes masuk, yaitu : Fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum. Saya sebetulnya merasa tidak akan diterima masuk ke Fakultas Psikologi. Ternyata, saya masuk dan diterima di fakultas Psikologi, tapi semangat saya untuk berkuliah di jurusan Ilmu Hubungan Internasional belum pupus. Di awal masa saya berstatus mahasiswi, saya masih tetap kekeh untuk masuk kuliah jurusan Ilmu Hubungan Internasional PTN. Jadi, saya ikut lagi SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di tahun 2011. Target saya saat itu adalah : lolos SNMPTN 2011. Tapi, mungkin memang bukan jodohnya, saya gagal (lagi).

Saya kemudian mencoba untuk menyukai bidang Psikologi ini, walaupun awalnya masih coba meraba-raba. Perlahan tapi pasti kuliah di Psikologi membuka lebar pikiran saya. Ternyata, saya mulai menemukan passion saya di bidang sosial. Akibatnya, mimpi saya kembali mengalami sebuah transformasi. Tidak muluk-muluk kali ini, saya hanya bermimpi untuk menjadi seorang sarjana. Lalu bekerja di Kementrian Luar Negeri atau Kementrian Sosial, sambil melanjutkan sekolah pasca sarjana. Sampai detik saat saya menulis tulisan ini, mimpi saya untuk sebuah pekerjaan atau profesi belum berubah. Saya saat ini bermimpi untuk menjadi seorang PNS. Bukan cita-cita atau mimpi yang tinggi memang, tapi itulah passion saya. Mungkin sebuah mimpi yang paling sesuai dengan diri saya. Lewat Kementrian Luar Negeri, saya bisa menemukan lagi secuil harapan untuk berdiplomasi dengan negara tetangga, sama halnya yang dilakukan oleh seorang diplomat.  Di sisi lain, lewat Kementrian Sosial, saya bisa menyalurkan passion saya dalam bidang sosial, khususnya bagi kaum marjinal, lebih spesifiknya adalah anak-anak. Pengalaman mengikuti bakti sosial sehari dengan anak-anak di bypass Rawamangun, di panti asuhan, dan lainnya, membuat saya semakin ingin memberikan “sesuatu” untuk mereka.

Melihat kembali mimpi saya sejak kecil, dimulai dari ingin menjadi seorang dokter bedah, detektif, dokter bedah plastik, dan menjadi diplomat (yang juga harus kandas karena “tercebur” di dunia Psikologi). Tranformasi mimpi saya terjadi kembali. Bermimpi untuk menjadi PNS dan mengabdikan hidup dalam bidang sosial.

Pertanyaannya sekarang, apakah saya mampu?

Jawabannya hanya akan saya simpan dalam hati.

Do the best and let God do the rest..

Comments on: "Transformasi Mimpi Seorang Mahasiswi" (4)

  1. Tesar Gusmawan said:

    Sharing impian di blog ini luar biasa menginspirasi pembaca ya.. Di tengah hiruk pikuk kesibukan yang seolah memaksa orang untuk hanya mengerjakan hal yang ada di depan mata, kecil, kompleks, khusus, sampai akhirnya lupa untuk merenungkan dan merefleksikan gambaran besar dan satu langkah di depan yang ingin diambil, blog ini kembali menyegarkan kita dengan cerita-cerita dari orang-orang yang setara dan sama-sama sedang berada dalam arena pertandingan yang sama.

    Semangat ya Sarah.. Banyak gagal ditolak sana-sini itu biasa dan akan sering dialami. Terus tertuju ke depan dan jangan hanya berhenti pada motivasi. Kita sudah banyak melihat kan begitu banyaknya motivator bergelimangan di mana-mana. Tujuannya memang baik, tapi seringkali orang-orang yang mengikutinya hanya berhenti pada euphoria inspirasi dan motivasi yang didapat, lalu menyebar quote-quote kata mutiara, lalu…. selesai. Kalau ingin mengabdi pada negara melalui jalur formal seperti PNS, mulai gabung di organisasi muda yang bisa jadi tempat berlatih seperti Parlemen Muda Indonesia. Dan kerasnya dunia pemerintahan (yang gue sendiri belum tahu banyak) mengharuskan kita memiliki bibit, bebet, bobot yang dapat diperhitungkan. Oleh karena itu, walaupun orang seringkali bilang IPK gak penting, mari kita tidak lihat angkanya saja tapi menjadi cerminan keseriusan kita berkontribusi di masyarakat melalui jalur pendidikan yang kita tempuh.

    Tetep semangat ya Sar! Melangkah terus dan jangan pernah kompromi dengan kemunduran!🙂

    • William SB said:

      memang itu semangat awal dibuatnya blog ini. makanya tolong dibantu disebarkan ke semua orang tentang blog ini.🙂

  2. Sarah Rezivvon Tinayo said:

    terima kasih sekali Tesar (teman, sahabat, dan partner kuliah) untuk komentar nya..🙂
    Kadang, orang memandang keinginan jadi PNS itu adalah hal yang aneh. Dulu, PNS identik dengan gaji kecil dan pengabdian penuh pada negara. Sekarang, banyak yg berlomba jadi PNS supaya bisa hidup bergelimang harta. But, that’s not the point! Harus gue akui, siapa yang tidak menolak pekerjaan dengan gaji besar ditambah bonus nya kalau udah pensiun tetap dapet tunjangan? itu juga jadi salah satu harapan gue, supaya di masa tua gue nanti, gue ga perlu ngerepotin anak-cucu gue. Hehehe. Well, tapi, dari situ (jadi PNS) gue pengen mengabdikan diri pada negara dan bantu mereka yang selama ini sulit dalam hal ekonomi. Klise memang dan mungkin terlalu muluk-muluk. Tapi, gue percaya, ketika ada niat yang tulus, semua bisa berjalan dengan baik dan hasilnya pun sesuai harapan..🙂

  3. jadi ingin menjadi sesorang yang di inspirasikan juga …

    ya tuhan … berikan aku kesempatan itu .

    indahkanlah hidup ku …
    bukan hanya untuk ku saja , tapi agar aku juga bisa mengindahkan makhluk-makhluk mu dengan kata-kata yang bisa kurangkai seperti orang-orang hebat di blog ini …

    kagum .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: