Dream Big, Dream Right!

GIGGSY!! GIGGSY!!

[bagian akhir dari cerita menggapai mimpi oleh Timotius Prassanto – lanjutan dari : Part of Old Trafford]

Masih ingat dalam kepala bagaimana senangnya gue ketika membaca koran tentang kemenangan Treble Manchester United di tahun 1999 (Piala FA, Piala Liga Inggris, Piala Champions). Waktu itu judul halaman utama koran KOMPAS adalah “Eforia MU” dengan foto besar para pemain MU yang sedang diarak keliling kota Manchester di atas bis dengan atap terbuka. Semua berita tentang MU di koran pada hari itu dan hari-hari sebelum dan sesudahnya pun langsung gue dokumentasikan dengan membuat kliping.

Membaca berita dan melihat foto-foto dokumentasi parade MU waktu itu benar-benar meningkatkan eforia gue yang memang sedang merayakan kemenangan MU walaupun gue berada ribuan kilometer dari kota Manchester. Hanya dengan melihat foto diheadline KOMPAS itu saja, gue menemukan diri gue tersenyum puas sambil berbicara dalam hati; “seandainya gue berada disana!“.

Dua belas tahun semenjak hari itu, gue mendengar kabar bahwa tim yang sama akan melakukan parade lagi. Kali ini mereka akan mengadakan parade keliling kota Manchester untuk merayakan keberhasilan merebut gelar Liga Inggris ke-19 kali, memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Liverpool yang memiliki 18 gelar. Parade ini adalah parade pertama MU setelah tahun 1999 kemarin. Berhubung gue sedang berada di negara ini, maka ya tentunya tidak akan gue lewatkan momen sekali seumur hidup ini.

Senin, 30 Mei 2011 jam 8.30 pagi gue sudah berjalan kaki menuju Manchester Cathedral, tempat pertama mereka akan melakukan parade di atas bis beratap terbuka. Hujan gerimis di pagi hari itu pun tidak melunturkan niat gue untuk berpartisipasi dalam momen langka ini. Bermodal jas hujan seadanya, gue melangkah pasti menembus rintik-rintik hujan yang jatuh menghujam bumi. Sampai di Manchester Cathedral, gue melihat di sisi jalan kanan dan kiri telah diberi pagar barikade. Entah karena hujan atau apa, tidak begitu banyak orang yang telah berkumpul di sisi kiri dan kanan jalan tersebut padahal sudah jam 09.00 pagi. Dengan mudah gue pun mendapat tempat di barisan pertama tepat di pinggir jalan.

Setengah jam sebelum parade dimulai, ada MC gitu yang sibuk menghangatkan suasana dengan tanya-tanya ke penonton siapa nama, darimana, siapa pemain MU favorit mereka, atau momen terbaik mereka tentang MU. Lalu diselingi dengan nyanyi yel-yel yang biasa dinyanyikan di Old Trafford ketika pertandingan. Lumayang gue jadi belajar banyak tentang yel-yel ini.

Jam 10.00 pagi tepat, bis merah itu pun datang perlahan didahului oleh para polisi Scotland Yard berkuda. Penonton pun jadi heboh dan mengibar-ngibarkan bendera atau syal yang mereka bawa. Rasanya hujan gerimis yang mengguyur sedari tadi sudah tidak mempengaruhi semangat penonton. Seketika itu juga, confetti merah pun meledak tepat diatas bis tersebut, yang semakin memeriahkan suasana parade itu. Gue pun jadi sadar bahwa ternyata jumlah penonton telah meningkat drastis. Gue pun langsung mengeluarkan kamera dan memotret momen langka itu.

Ini dia, mo! Momen yang dua belas tahun lalu cuma lo lihat dari foto di koran! Sekarang lo bisa lihat dengan mata kepala sendiri!

Bis yang dipakai itu bis double decker tapi tingkat duanya beratap terbuka, seperti bis yang biasa digunakan oleh “London Sightseeing Bus” gitu. Bis bernomor “19” yang menandai berapa kali mereka meraih gelar Liga Inggris. Di atas bis terlihat Vidic dan Ferdinand yang memegang piala Liga Inggris, dengan Evra dan Nani di kanan kirinya. Tulisan besar “CHAMPIONS” dengan huruf “IO“-nya dibuat semirip mungkin dengan angka “19” terpampang lugas di sisi kiri bis berwarna merah tersebut. Di atas bis, satu persatu gue bisa mengenali pemain yang berada disana; Rooney, Carrick, Van der Sar, Giggs, Scholes, Owen, Ji-sung, Valencia, Berbatov, Hernandesz, Fabio, Rafael, Sir Alex Ferguson, dan kawan-kawannya. Dengan gue berada di barisan pertama ini, jarak gue dengan mereka-mereka ini engga lebih dari satu meter! Merinding rasanya ketika gue melihat pahlawan-pahlawan masa kecil gue ini dari dekat and in flesh!

Beruntung gue sudah lebih dulu melihat mereka ini dalam bentuk manusia di Old Trafford kurang dari seminggu yang lalu, jadi gue tidak terlalu grogi dalam memfoto mereka. Tapi di Old Trafford waktu itu memang ada beberapa pemain yang tidak gue lihat, maka gue cukup grogi dan senang ketika melihat Berbatov, Hernandez, dan Van der Sar di atas bis ini.

Ketika bis merah itu berjalan pelan melewati kami, gue bersama puluhan penonton lain pun mengejar bis itu sambil berteriak-teriak dan menyanyikan yel-yel. Dengan kecepatan bis yang ramah, dengan jalan cepat pun kami bisa mengimbangi kecepatan laju bis itu. Selama gue dan puluhan pendukung fanatik MU ini mengikuti bis itu pun, gue belajar lebih banyak lagi yel-yel yang ternyata cukup simpel dan cukup membakar semangat. Ini baru yang namanya parade!

Alhasil gue benar-benar mengikuti bis merah itu melaju pelan membelah kota Manchester. Tapi berhubung jalanan yang mereka lewati terlalu penuh sesak untuk mengejar bis, jadi gue (dan beberapa pendukung fanatik) mengambil jalan yang pararel dengan rute bis itu sambil berlari-lari. Seru juga sih karena ternyata ada banyak gitu yang lari-larian ke gang lain sambil ngibar-ngibarin bendera. Sambil lari-larian itu gue ngecek di kamera, pemain mana yang belum gue foto secara close-up yah dan mengisi kekosongan foto itu di gang selanjutnya. Gue sampe takut, gimana kalau sekuriti itu atau pemain-pemain MU itu ngenalin muka gue karena gue selalu ada di setiap persimpangan jalan ahahaha.

Ternyata di sepanjang rute yang mereka lalui, ada beberapa jalan yang tidak diberi pagar barikade. Jadi gue dan puluhan suporter fanatik ini hanya berbatasan dengan para sekuriti yang badannya segede-gede bagong ini. Ini membuat gue hanya berjarak sangat tipis dengan si bis merah yang melaju pelan ini yang berada di sebelah kanan gue. Momen ini ternyata dimanfaatkan oleh beberapa suporter untuk melemparkan syal, baju jersey, atau bola sepak serta bolpen atau spidol untuk meminta tanda tangan pemain. Setelah salah satu atau dua pemain menanda-tangani, mereka melemparkan kembali barang-barang tersebut ke bawah. Setelah gue memahami proses ini, yang ternyata dibiarkan saja oleh para sekuriti yang bermuka galak itu, gue pun pengen ikutan walaupun gue bukan tipe orang yang suka minta tanda tangan orang terkenal. Gue inget-inget, benar saja gue ENGGA PERNAH minta tanda tangan orang terkenal walaupun gue pernah ketemu dan foto bareng. Tapi kalau gue mau minta, apa yang mau ditandatangani yah? Gue engga bawa kertas atau apa gitu. Ah sial!

Kalimat “ah sial” itu terwujud 180′ ketika gue melihat salah seorang pemain MU melempar kaos jersey merah ke bawah, tapi engga ada yang ngambil. Alhasil kaos itu hanya tergeletak di jalanan. Mata gue yang terus mengikuti kaos itu dari momen kaos itu terbang di udara sampai tergeletak di aspal, membuat badan gue mendekat ingin meraih kaos itu. Tapi salah seorang sekuriti berbadan besar dan bermuka galak langsung menghadang laju deviasi gue sambil menggertak “where are you going?? where are you going??“. Gue yang masih ngiler dengan kaos itu sambil terpana pun cuma bisa menunjuk kaos itu dengan tangan kanan gue tanpa bisa menjawab pertanyaan retoris sekuriti itu. Alhasil badan gue pun didorong-dorong ke arah kiri oleh barisan sekuriti itu. Seorang sekuriti yang berbaris paling belakang sepertinya tahu maksud gue dengan mengambil kaos itu dari jalan dan memberikannya ke gue sambil berkata, “is this shirt for you?“. Gue yang masih terpana, cuma bisa ngeliatin kaos itu yang kini telah berada di tangan gue. Asli, gerak tubuh gue ketika menerima kaos dari tangan sekuriti itu kaya anak kecil baru nerima layangan baru; langkah kaki terhenti, badan diam, mata mengagumi kaos merah itu yang berada di tangan gue.

KAOS JERSEY ASLI MU, JATUH DARI LANGIT! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………!!!!!

Akibat cengonya gue, bis itu telah jauh di depan gue. Gue pun berlari sambil mikir, “Aduh gue ga punya spidol! Apa minjem aja ya dari salah satu suporter? Atau nebeng ketika ada suporter yang ngelempar spidol dan kaos ke atas, gue juga lempar kaos gue? Ah tapi kalau gue lempar kaos gue, gimana entar kalo kaos gue ga balik atau pas dilempar diambil orang lain? Resiko nih! Ini kaos asli gratisan, lebih enak langsung gue simpen aja dalam tas ga usah minta tanda tangan. Tapi orang-orang disekitar gue ini masih pada sibuk ngelemparin kaos dan bener-bener gampang banget gitu minta tanda tangan ke para pemain itu. Karena memang lagi momennya para pemain plus Sir Alex Ferguson juga menandatangani memorabilia itu. Aduh aduh gimana nih??”

Seketika itu juga gue ingat bahwa gue selalu bawa-bawa pulpen di tas gue. Setelah gue panik merogoh pulpen, gue pun siap dengan kaos di tangan kanan dan pulpen di tangan kiri. Sekarang gue harus memutuskan, siapa yang mau gue minta tandatangannya? Di sebelah kiri bis itu, muka-muka yang gue kenal ada Fabio, Rafael, Hernandez, Paul Scholes, Ryan Giggs, dan Sir Alex Ferguson. Gue ga bisa minta tanda tangan mereka semua, gue berkata pada diri gue sendiri; gue udah dapat kaos asli gratisan maka setelah itu satu tanda tangan saja cukup – keberuntungan ada batasnya – engga boleh maruk! Gue benar-benar takut kaos gue ini nanti tidak sampai kembali ke tangan gue. Setelah itu gue putuskan gue mau minta tanda tangan antara Giggs atau Ferguson. Karena memang kalau ada yang tanya siapa pemain MU favorit gue maka akan gue jawab, Ryan Giggs. Atau kalau manajer kayaknya lebih seru. Gue pun ikut-ikutan beberapa suporter yang sibuk berteriak-teriak “Fergie! Fergie!” tapi yang bersangkutan engga nengok-nengok. Gue lihat Ryan Giggs lagi nganggur dan duduk diam menghadap ke depan. Menyadari tidak ada yang memanggil dia, gue pun berteriak dengan lantang sambil kaki sibuk mengimbangi laju bis,

Giggsy! Giggsy!

Dia nengok mencari arah suara, gue pun merespon dengan mengacung-acungkan kaos dan pulpen di tangan gue sambil tetap memanggil dia. “Giggsy! Giggsy!“. Dia pun menemukan tatapan mata gue, dan selama sepersekian detik itu kami saling bertatapan mata adalah detik-detik yang akan selalu gue ingat sampai tua. Anehnya, air muka dia berekspresi bingung gitu ngeliat gue. Sebelum kehilangan tatapan dia, gue pun melempar kaos dari tangan kanan gue sambil bilang “Sign it! Sign it!“. Dia menangkap kaos gue! Gue takjub betapa lemparan gue begitu sempurna dan mudah untuk dia tangkap. Lalu gue lempar lagi pulpen dari tangan kiri gue. Ternyata lemparan pulpen gue pun sama sempurnanya, dia juga menangkap pulpen gue! AAAAAAAAAAAA!

Dari bawah gue sambil berjalan cepat, kepala dan mata gue tetap melihat ke arah Ryan Giggs yang sekarang sedang meminta seseorang untuk memegangi baju gue sembari dia menandatangani baju itu. Gue benar-benar engga peduli dengan kemana arah gue jalan, karena toh di kiri kanan depan belakang gue berjalan ke arah yang sama. Sambil diiringi oleh yel-yel lagu yang sekarang hanya lewat saja di telinga gue, Giggs terlihat telah selesai menandatangani baju gue. Gue melambaikan kedua tangan gue dan berharap dia masih ingat bahwa muka gue ini yang tadi minta tanda tangan. Dia mengenali gue dengan melempar kaos merah itu ke gue, gue tangkap dengan sempurna, ketika itu juga seorang anak kecil di depan gue mencoba merebut kaos itu dari gue – yang langsung gue tarik sambil gue pelototin anak itu. Lalu gue melihat ke arah Giggs lagi yang kali itu sedang bersiap melempar bolpen gue. Gue tangkap, dan gue lihat ke arah Giggs lagi maksud untuk berterima kasih tapi dia sudah menatap ke arah lain.

Bolpen yang pernah dipegang oleh Ryan Giggs itu pun langsung gue simpan rapi di dalam tas, lalu gue mengecek tanda tangan Giggs di kaos merah gue itu. WOOOOOW! Kaos gratisan plus tanda tangan Ryan Giggs!! WHAT A LUCKY BASTARD!

Lalu gue pun mengamankan kaos itu di dalam tas punggung gue, sambil tetap mengiringi bis itu tapi kali ini gue lebih menikmati parade sambil nyanyi-nyanyi tanpa foto-foto lagi. Gue benar-benar ngikutin bis itu sampai rute terakhir mereka, tercatat sudah tiga jam setelah parade dimulai. Di rute terakhir itu, gue melihat para polisi yang mengiringi bis itu naik ke mobil patroli dan bis itu pun lama kelamaan melaju kencang dan meninggalkan keramaian. Meninggalkan gue dengan kenangan emas dan indah, plus dalam wujud kaos asli gratisan dengan tanda tangan Ryan Giggs diatasnya.

Kalau dipikir-pikir, seorang anak berumur 12 tahun yang memiliki mimpi untuk melihat tim sepak bola kesayangannya di stadion tempat mereka bertanding adalah sebuah mimpi yang “terlalu kekanak-kanakan”. Banyak orang yang meremehkan dan terkadang menertawakan mimpi gue itu ketika gue menceritakannya kepada orang lain. Beruntungnya, gue masih menyimpan dan merawat dengan baik mimpi itu di dalam kotak besar gue bersama mimpi-mimpi yang lain. Disaat yang bersamaan, gue selalu terbuka terhadap setiap piring kesempatan yang ditawarkan. Tentunya gue memiliki selera untuk memilih untuk menerima piring kesempatan tersebut atau tidak. Ketika pilihan telah dijatuhkan, gue yang selalu bermodalkan sendok-garpu perjuangan serta celemek bermotif keberuntungan, gue selalu siap untuk menyantap mimpi gue yang telah gue simpan itu diatas piring kesempatan tersebut.
Bon Appetite!

[dipublish ulang dari blog Elmo’s Avenue dengan judul yang sama]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: