Dream Big, Dream Right!

Part of Old Trafford

[lanjutan dari Jalan Kaki Mewujudkan Mimpi]

Selasa, 24 Mei 2011

Gue benar-benar sadar apa yang dimaksud dengan julukan “Theatre of Dreams” pada stadion Old Trafford milik Manchester United Football Club. Semenjak kecil ketika melihat tulisan itu di salah satu sudut stadion lewat layar TV, gue berkata pada diri sendiri,

memang benar stadion itu adalah Theatre of Dreams, tempat dimana setiap fans MU seperti gue akan mewujudkan mimpinya ketika nonton MU langsung di stadion itu.

Diujung satu jam jalan kaki gue dari pusat kota, terlihatlah si stadion megah ini. Tidak itu saja, gue menyadari bahwa gue dan rekan gue berjalan bersama ratusan orang lain yang memenuhi jalan. Mereka semua memakai atribut MU; mulai dari jersey merah, syal, sampai mengibar-ngibarkan bendera MU. Gue pun tidak bisa menyembunyikan kesenangan gue yang seperti anak kecil, feels like home! This is it, Timo! This is it!

Sesampainya di depan stadion, gue pun mau norak untuk foto di depan stadion itu sambil pamer bendera MU yang baru gue beli hari sebelumnya khusus untuk pertandingan ini. Gue pikir kalau beli jersey, ah kemahalan dan Made in Indonesia juga (mendingan gue beli di kaskus, walaupun bajakan tapi mirip dan sama-sama Made in Indonesia). Kalau beli syal, bah macam mana orang Indonesia pakai syal di keseharian. Rasanya bendera akan jadi kenang-kenangan yang unik mengingat jarang ada yang jual bendera tim sepak bola di Indonesia.

Setelah puas sesi foto-foto, gue dan rekan gue pun menuju pintu masuk kami. S 20, itu pintu masuk yang gue tuju karena tempat duduk gue berada di South Stand. Tempat ini khusus gue beli karena memang tempatnya merupakan angle yang sama kalau kita nonton lewat televisi. Selain itu dari tempat ini, gue bisa melihat mozaik besar tulisan “Manchester United” yang tersusun dari bangku-bangku di North Stand. Di dekat pintu masuk ini, yang ternyata dekat dengan pintu masuk rekan gue yang memang memilih tempat yang berbeda, banyak orang berkumpul membentuk barisan seakan menunggu sesuatu.

Gue dan rekan gue pun spontan ikutan melebur pada keramaian itu. Ternyata mereka menunggu para pemain yang datang dan masuk ke stadion! WAH! Benar saja, selama kami menunggu, gue bisa sedekat itu (dan mengambil fotonya tentu saja) dengan Rio Ferdinand dan Park Ji-Sung! AHAHAHAHAHAHAHA! Sampai jam 19.00 kami memutuskan untuk masuk saja karena setelah pertandingan pun mereka pasti akan lewat jalur yang sama untuk pulang. Karena gue juga sadar pasti para pemain sedang melakukan pemanasan di lapangan, yang akan menjadi target empuk untuk foto-foto.

Antri, men-scan tiket, dan masuklah gue ke dalam Old Trafford. Momen-momen ini saking terlalu fantasinya bahkan gue tidak percaya bahwa gue telah berada di dalam stadion ini. Jadi diantara gerbang masuk dengan tribun penonton itu ada semacam ruang tunggu dan toilet, ruang tunggu itu berlantai merah dan ada tangga-tangga untuk menuju tribun penonton. Setelah puas mengagumi momen tersebut, gue pun naik ke tribun gue; blok STH 122. Di ujung tangga, gue memperlihatkan tiket gue pada seorang staff yang kemudian menunjukkan gue dimana tempat duduk gue. Dia bilang, “CC 215, that’s your seat. See, just straight down there, on the left, three rows from the pitch, ok? Three rows from the pitch!”

Three rows from the pitch” entah kenapa kalimat itu terngiang-ngiang di dalam kepala gue tanpa menyadari artinya sembari gue mencari barisan CC. Barisan di sebelah kiri gue kok angka semua ya, mana hurufnya nih?? Makin lama makin dekat dengan lapangan hijau, akhirnya gue menemukan barisan gue; CC! Lalu gue mencari urutan bangku gue, 215. Setelah ketemu, gue pun melihat orang lain di kiri kanan depan belakang gue berdiri semua jadi gue juga ikutan berdiri. Taruh tas di bawah, lalu gue tersadar. Three rows from the pitch! Ya Tuhan! Gue benar-benar kaget! Seingat gue ketika gue memilih tempat duduk pas beli tiket, engga sedekat ini dengan lapangan deh! Selain itu gue juga baru sadar betapa dekatnya posisi gue dengan jalur masuk ke kamar ganti. Posisi ini memang sengaja gue pilih karena gue tahu persis bahwa jalur masuk kamar ganti pemain itu ada di pojok sebelah kiri kalau dari sudut pandang televisi. Kenapa posisi ini penting, karena gue selalu memperhatikan di TV kalau awal pertandingan, istirahat, dan berakhirnya pertandingan, maka para pemain akan berjalan menuju kamar ganti ini. Artinya, gue bisa melihat mereka dari dekat!

Detik-detik pertama gue di kursi CC 215 itu gue benar-benar engga bisa konsen. Tangan gue yang sibuk merogoh-rogoh kamera, sementara mata gue sibuk antara mengagumi arsitektur stadion ini dan melihat para pemain MU yang pemanasan tepat di sisi lapangan sebelah kiri (di depan gue). Tulisan Old Trafford di atas stadion, Wayne Rooney sibuk memainkan bola tepat di depan gue, spanduk-spanduk dukungan di sebelah kiri stadion, Ryan Giggs lagi pemanasan di depan gue juga, ada Dwight Yorke sedang diwawancarai presenter TV di pinggir lapangan di depan gue, aduh aduh aduh satu-satu doooonk! Tapi momen yang paling oke di detik-detik itu adalah ketika gue melihat tulisan “Theatre of Dreams” di tribun seberang. Tulisan itu begitu jelas dan tegas terpampang, memberitahu kepada siapapun yang hadir di stadion ini bahwa mereka sedang berada di sebuah tempat dimana mimpi-mimpi akan terwujud.

Selama pemain MU dan Juventus melakukan pemanasan, terdengar berbagai alunan lagu yang diputar di pengeras suara. Gue kenal dengan setiap lagu yang mereka putar dan cukup takjub dengan selera si pemutar lagu, tapi gue sudah engga bisa lagi menemukan siapa penyanyi dan apa judul lagunya lantaran isi kepala gue yang masih sibuk mencerna apa yang sedang terjadi. Ketika para pemain telah selesai melakukan pemanasan dan berlarian masuk ke kamar ganti, gue semakin engga santai lagi. Satu persatu gue melihat Paul Scholes, Michael Owen, Gary Neville, David Beckham. NAH LOH, BECKHAM! Yang satu ini memang sudah gue ekspek bahwa dia akan main setelah baca beritanya di koran, tapi gue benar-benar masih kaget dan takzim aja bisa melihat sosok pria yang satu ini dengan mata kepala sendiri! Kalau dipikir-pikir, kami sama-sama datang ke Royal Wedding, kami juga sama-sama datang ke Old Trafford. Wuihhhh ahahaha! *mulai aneh-aneh*. Engga cuma pemain MU, pemain Juventus juga berlarian ke kamar ganti. Berhubung gue engga ada yang kenal, tapi ada dua pemain yang hapal betul gue mukanya; Alessandro del Piero dan Gianluigi Buffon! WUIHHHHH! Ternyata Del Piero itu bertubuh pendek tapi berbadan besar ya, sedangkan Buffon itu tingginya minta ampun ngalahin tiang listrik.

Setelah semua pemain memasuki ruang ganti, lapangan pun diisi oleh para staff yang memegang semacam tongkat panjang berujung mirip garpu lalu mencocol-cocolkan (cocol itu bahasa mana yaaa?) ke lapangan rumput. Entah apa yang mereka lakukan, mungkin mereka hanya ingin menjaga agar lapangan rumput tersebut tetap rata ya. Lalu selama 15 menit itu, terdengar suara MC (ga keliatan mana orangnya) yang menghangatkan suasana dengan berinteraksi dengan penonton dan mengajak penonton untuk beryel-yel. Gue yang sama sekali engga tahu dan engga hafal dengan yel-yelnya praktis cuma bisa komat-kamit mengikuti orang di kiri kanan dan belakang gue. Seru deh, MC tersebut menyebut Old Trafford untuk memanggil semua penonton yang hadir pada malam hari itu, termasuk gue! Jadi kaya yang, “Old Trafford, make some noise!“.

Ya Tuhan, pada malam hari itu gue masuk dalam sebutan “Old Trafford“!

Waktu pertandingan pun telah tiba, dan para pemain pun memasuki lapangan. Pemain dari kedua tim pun membentuk barisan kehormatan untuk menyambut Gary Neville yang menggendong kedua anaknya. Ya, pertandingan persahabatan pada malam hari ini adalah untuk memberikan penghormatan khusus kepada Gary Neville yang akan gantung sepatu setelah menghabiskan seluruh karir sepak bolanya di MU. Untuk pertandingan ini pun, beberapa pemain dariClass of 92 seperti Phil Neville (yang sekarang bermain di Everton), Nicky Butt (baru selesai menjalani karir di klub South China), dan David Beckham (sekarang bermain di Los Angeles Galaxy). Melihat mereka bertiga kembali memakai kostum merah MU, membuat gue merinding! Ini seperti ketika gue menonton sepak terjang mereka di era 1990-an lewat layar televisi, namun sekarang gue melihat mereka dengan mata kepala sendiri dengan jarak kurang dari 100 meter dari tempat gue! Mereka-mereka ini yang bisa dibilang biang keladi mengapa gue bisa ngefans berat dengan tim sepak bola yang satu ini. Mimpi ini terlalu indah untuk terwujud, tidak saja menonton MU di Old Trafford tapi gue bisa melihat langsung pahlawan-pahlawan masa kecil gue!
Sebelum pertandingan dimulai, Alex Ferguson dan David Gill (CEO klub) memberikan kenang-kenangan kepada Gary Neville dan mengucapkan testimonal mereka terhadap legenda MU ini. Setelah itu, peluit pertandingan pun dimulai dan, ini dia kali pertama gue menonton sepak bola di stadion!
Pertandingan di babak pertama pun lebih banyak dikuasai oleh MU, yang terlihat begitu superior dengan kekuatan campuran antara Class of 92 (Giggs, Scholes, Butt, Beckham, Phil Neville, Gary Neville) dengan pemain-pemain baru angkatan tahun ini. Yang menarik adalah, setiap kali Beckham mendapat bola atau bahkan mendapat kesempatan untuk menendang bola di corner kick, Old Trafford tanpa dikomandoi langsung heboh. Selain itu, pertandingan ini juga menarik karena ada dua pemain dalam satu tim yang menggunakan nomor punggung yang sama; Beckham dan Owen!
Beruntung juga gue duduk di bagian South Stand dengan gawang MU di sebelah kiri, karena gue bisa melihat dari dekat nostalgia Beckham yang di posisi sayap kanan yang bekerja sama dengan Gary Neville di back kanan. Jadi ya selama 45 menit itu, mereka berdua lari mondar-mandir tepat di depan mata gue😀 Gue benar-benar takjub melihat umpan-umpanan antara Beckham, Scholes, dan Rooney yang begitu rapi dan indah! Ah, the good old times (plus Rooney). Belum lagi setiap umpang panjang khas Beckham yang melengkung indah. Kalau nonton lewat TV itu rasanya biasa saja, tapi menjadi luar biasa kalau nonton langsung! Pemain-pemain kunci macam Giggs dan Scholes langsung digantikan di menit ke-15 untuk menyimpan tenaga mereka untuk pertandingan penting final Liga Champions lawan Barcenola. Babak pertama pun ditutup dengan skor 1-0 untuk MU, dengan gol yang dicetak oleh Rooney.

Babak kedua, banyak terjadi pergantian pemain. Yang asyik, setiap pemain yang diganti itu pasti lewat di depan gue untuk menuju ke ruang ganti. Ada Buffon, Del Piero, Owen, O’Shea, dan lain sebagainya. Gue merasa pertandingan di babak kedua itu gue udah mulai engga konsen. Buktinya begitu ngeliat ke papan skor, gue kaget kok skor udah 1-1 ya, Juve kapan nyetak golnya yah?? Pertandingan juga sudah mulai didominasi oleh Juventus, karena memang semua pemain pilar MU telah ditarik keluar, menyisakan senior-senior macam Butt, Phil Neville, Beckham yang memang skill masih ada tapi stamina yang mulai pudar. Mungkin ini adalah kali terakhirnya mereka bisa berkostum MU lagi dan sebagai tribut untuk Gary Neville jadi mereka mau main penuh. Tapi momen di babak kedua itu adalah ketika MU mendapat tendangan bebas dengan jarak tepat diluar kotak penalti. Old Trafford bersorak riuh dan berteriak “Becks! Becks! Becks!” untuk menyemangati Beckham yang akan mengambil tendangan bebas. Tendangannya tetap melengkung khas namun sayang terlalu tinggi diatas mistar gawang. Pertandingan pun berakhir dengan skor 2-1 untuk Juventus.

Di akhir pertandingan, Gary Neville memberikan ucapan perpisahan dan terima kasihnya untuk manajer, pelatih, pemain, dan suporter, khususnya kepada Butt, Neville, dan Beckham yang bersedia untuk memakai kostum MU lagi dan bermain penuh 90 menit dalam pertandingan malam ini. Lalu Gary Neville melakukan victory lapmengelilingi lapangan untuk memberikan apresiasi kepada suporter sambil memungut syal-syal yang dilemparkan pendukung kepadanya. Momen terbaik pada malam itu adalah, Beckham yang menunggui Neville di depan ruang ganti (tidak jauh dari tempat gue), berpelukan dengan Gary Neville. Wuih! Belum cukup, Gary Neville pun diwawancarai oleh salah satu televisi lokal tepat di pinggir lapangan di depan barisan gue.

Ketika penonton berhamburan keluar, gue pun sibuk minta tolong orang lain untuk fotoin gue dengan latar belakang Old Trafford. Setelah diteriak-teriakin oleh para staff untuk segera mengosongkan stadion, gue pun berjalan keluar dan mengucapkan selamat tinggal pada Old Trafford. Sesuai rencana dengan rekan gue, kami pun kembali ke tempat yang sama seperti tadi untuk menunggu para pemain keluar dari ruang ganti menuju kendaraan mereka masing-masing. Bedanya, kali ini jauh lebih ramai daripada sebelum pertandingan tadi. Dengan pengalaman berdesak-desakan sambil mengambil foto di Royal Wedding bulan lalu, gue pun nyelip dan menjulurkan tangan setinggi-tingginya untuk mengambil foto para pemain MU yang lewat. Gue sama sekali engga bisa melihat para pemain tersebut jadi gue hanya bergantung pada orang-orang yang meneriakkan namanya saat mereka lewat. Yang paling heboh tentu saja ketika Beckham keluar. Secara khusus, mobilnya dimundurkan sedekat mungkin dengan pintu keluar. Namun ternyata Beckham malah berjalan menuju ke penonton sambil memberikan tanda tangan. Ada kali itu 5 menitan momen Beckham bagi-bagi tanda tangan dan malah membuat orang-orang makin liar untuk dorong-dorongan sementara gue yang engga bisa ngeliat apa-apa cuma sibuk nge-video-in momen itu pake HP lantaran kamera digital gue sudah tewas baterainya. Gue diceritain rekan gue yang berada di barisan pertama untuk minta tanda tangan, dia sudah menjulurkan kertas dan pulpen dan Beckham sedang memberikan tanda tangan untuk orang di sebelah kanan dia, lalu Beckham tiba-tiba balik badan dan kembali ke mobil. Wah apes banget, satu orang lagi padahal ya! Tapi setidaknya dia bisa ngeliat dan sedekat itu dengan Beckham sementara gue harus digencet sama orang-orang bule yang badannya gede-gede ini.

Sekitar jam 11 malam, kami pun pulang naik tram. Sekali lagi gue memandang Old Trafford, berterima kasih pada Tuhan karena telah diberikan kesempatan maha-emas ini. Gue menutup hari itu dengan kalimat; hari ini adalah hari dimana gue akhirnya mewujudkan mimpi masa kecil gue untuk nonton MU di Old Trafford langsung, dan semoga ini bukan menjadi yang terakhir kalinya.

Amin.

[dipublish ulang dari blog Elmo’s Avenue dengan judul Tiga Baris Dari Depan]

Comments on: "Part of Old Trafford" (3)

  1. […] [bagian akhir dari cerita menggapai mimpi oleh Timotius Prassanto – lanjutan dari : Part of Old Trafford] […]

  2. Mau tanya dong, kalau beli tiket online untuk pertandingan di OT,harus subscribe jadi member dulu ya? Gw mau nonton sama temen gw,tapi dia sebenernya penggemar juve. Jadi agak gak worthed buat dia klo dia harus buat member. Dan kalaupun buat member,dia maunya buat member atas nama temennya. Beli tiketnya bisa pake nama member lain gak? Thanks before ya. Nice story

  3. […] Bermimpi Itu seru, setelah baca tulisan Dare to Dream Big dan juga pengalaman penulis tadi saat menonton langsung Man Utd di Old Trafford (That’s my dream in November […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: