Dream Big, Dream Right!

[sebuah cerita dari William Sulivan Budiman]
Nama saya William Sulivan Budiman. Saya saat ini bersama 2 sahabat saya telah mendirikan sebuah biro pelatihan. Biro ini bernama AETHRA dan masih dalam skala kecil untuk ukuran sebuah biro training.

Mimpi saya adalah suatu hari saya dapat menjadi trainer yang terkenal, trainer yang handal dan kompeten se- Indonesia, bahkan di luar negeri.

Saya juga bermimpi bahwa AETHRA dalam 15 tahun ke depan dapat berkembang menjadi sebuah Biro Psikologi, bukan hanya biro training. Sebuah Biro yang berfokus dalam meningkatkan dan mengembangkan pendidikan dan kesejahteraan anak Indonesia.

Suatu hari nanti saya juga menerbitkan beberapa buku best seller. Buku yang dapat “mendidik” masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih tangguh, positif, optimis dan selalu berorientasi pada masa depan yang lebih baik.

Dalam perjalanan saya menuju mimpi tersebut, masih banyak hal yang perlu saya kerjakan. Masih banyak hal yang perlu saya perjuangankan dengan keringat saya sendiri sebagai bayarannya. Akan tapi saat ini saya akan berusaha berbagi dengan teman-teman apa yang telah saya lalui selama perjalanan saya sampai saat ini.

Saat ini saya adalah seorang trainer. Saya sudah memberikan training ke beberapa tempat, baik sekolah, tempat ibadah, dan perusahaan. Namun sejauh ini, sekolah dan siswa adalah klien terbanyak saya. Untuk seorang trainer seumuran saya, saya mungkin berani berkata bahwa saya memiliki kemampuan public speaking, kemampuan membawakan training (fasilitator), kemampuan membuat modul yang baik, dan pengalaman training yang cukup banyak. Namun apabila saya melihat ke belakang, saya merasa perjuangan saya sampai ke posisi saya saat ini cukup keras.

Saya sejak kecil adalah seseorang yang “penakut”, tidak berani berbicara di depan banyak orang. Saya pernah ingat saya bahkan pernah menangis dan gemetar waktu diminta maju ke depan saat di SD. Sampai beberapa tahun kemudian, saya juga tetap tidak suka maju ke depan. Alasan saya adalah saya malu dengan suara saya. Banyak teman-teman saya yang mengatakan bahwa saya memiliki suara yang “cempreng”. Saya malu, bahkan saya tidak suka mendengar suara saya sendiri melalui microphone. Saya benar-benar tidak percaya diri. Bagi saya, suara saya adalah kutukan buat saya. Walau saat SMP dan SMA saya sangat aktif di OSIS, saya bahkan menjadi ketua OSIS, saya tetap menghindari berbicara di depan umum. Saat itu saya selalu berkata, seandainya saya boleh meminta Tuhan mengubah satu hal dari diri saya, maka suara saya adalah permintaan pertama yang akan keluar dari mulut saya kepada Tuhan untuk dirubah.

Saat pertama kuliah di Psikologi Atma, saya mengikuti “Pramabim-Mabim”, yaitu sebuah acara orientasi untuk mahasiswa baru. Bentuk orientasi ini adalah sebuah training. Saat itu saya sangat terkesan dengan bagaimana para senior mengajarkan kami nilai-nilai dalam dunia kuliah melalui banyak kegiatan, permainan yang mengasyikan. Kemudian Pendamping Kelompok saya saat itu juga menurut saya mampu membuat kelompok kami berdinamika dengan baik, belajar dengan baik, berdiskusi dengan baik. Saya sangat terkesan dan tertarik dengan pelatihan. Itulah saat benih-benih cinta antara saya dengan pelatihan mulai tumbuh.

Tahun kedua, saya berusaha mendaftar sebagai Pendamping Kelompok (PK) untuk kegiatan yang sama. Setelah mendaftar, saya diwawancara dan diminta untuk sedikit role play menjadi PK. Tidak berapa lama kemudian, hasil keluar dan saya tidak terpilih menjadi PK. Saat itu saya dinilai tidak siap dan ditawari posisi lain di kepanitiaan. Posisi sebagai transportasi. Saya walau sedih, saya terima posisi lain tersebut. Di kepala saya, saya bertujuan mengobservasi dari dekat para PK dan para trainer senior-senior saya saat membawakan acara Pamabim-mabim ini.

Saya walau hanya seorang staff transport alias supir dalam kepanitiaan ini, saya tetap mempelajari secara detil modul pelatihannya. Saya selalu bertanya dengan senior tentang banyak hal tentang pelatihan. Saya saat tidak bertugas, saya berusaha selalu mengikuti satu kelompok dan mengobservasi apa yang dilakukan para PK lain dalam kelompok. Saya memperhatikan sesi evaluasi setiap malam, sehingga saya tahu perilaku apa yang salah sebagai PK dan perilaku apa yang sebaiknya ditampilkan. Semua informasi tersebut saya ingat dan saya simpan baik-baik dalam ingatan.

Kemudian pada tahun yang sama, saya terpilih sebagai seksi acara di MABIM (lanjutan PRAMABIM), di mana secara teknis seksi ini harus membawakan training kepada mahasiswa baru selama beberapa bulan ke depan. Lucunya, karena saya terlalu grogi, malu dan tidak pede, saya tidak pernah mau menjadi orang yang berbicara di depan beratus-ratus mahasiswa baru tersebut. Maka di antara 5-6 orang seksi acara, hanya saya satu-satunya yang tidak pernah berbicara di depan umum membawakan kegiatan.

Tahun ketiga, saya mendaftar lagi sebagai PK. Berbekal dari semua informasi dan pengetahuan yang saya kumpulkan sebelumnya, saya kali ini berhasil lulus. Saya menjadi PK, bahkan dengan pertimbangan saya adalah senior dan saya aktif di senat mahasiswa, maka saya dijadikan sebagai Ketua PK.

Mengapa saya berniat menjadi PK? Karena PK hanyalah mendampingi kelompok, di mana setiap kelompok hanya berisi 10 orang. Oleh sebab itu saya merasa percaya diri, karena saya tidak perlu berbicara di depan umum.

Singkat cerita, saya mengikuti pelatihan bagaimana menjadi PK yang baik (Training for Trainer). Saya kemudian bertugas dengan cukup baik ketika kegiatan. Saya merasa puas dengan kinerja saya, dan saya merasa puas karena saya berhasil menjadi PK tahun ini setelah kecewa di tahun sebelumnya.

Kebetulan saat itu Fakultas Psikologi Atma Jaya bekerjasama dengan Yayasan Putera Bahagia, mengadakan sebuah Program Pelatihan peningkatan kualitas hidup bagi para siswa dan guru SD, SMP & SMA miskin se-DKI Jakarta. Saya kemudian mendaftar pula sebagai PK untuk pelatihan siswa. Ini adalah program pelatihan tahun ke-2. Tahun pertama saya tidak mendaftar karena saya terfokus untuk menjadi PK di kegiatan Pramabim-Mabim. Saat saya mendaftar, saya kembali tidak diterima menjadi PK. Saya kembali ditawari posisi lain. Posisi itu adalah co-Fasilitator pelatihan guru. Posisi ini sebenarnya hanya menjadi asisten bagi fasilitator. Fasilitator butuh sesuatu, maka saya harus menyediakan barang tersebut. As simple as that.

Tapi saya tetap mengambil kesempatan ini. Karena pada pelatihan guru, peserta hanya 10 guru pendamping murid, oleh karena itu staffnya pun hanya dua orang. Fasilitator dan co-Fasilitator. Saya menggunakan kesempatan ini untuk mengobservasi apa yang dilakukan oleh fasil, di mana ini adalah dosen saya, dan saya selalu bertanya tentang banyak hal. Selain itu saya selalu berusaha proaktif dalam menjalankan tugas. Berusaha melakukan sesuatu tanpa pernah disuruh. Sambil saya terus menerus “mengintip” pelatihan siswa di aula seberang.

Karena kemauan belajar saya yang besar dan sikap kerja saya, ternyata dosen saya, fasilitator saya, merekomendasikan saya kepada ketua program ini tahun selanjutnya. Kemudian saya diminta untuk menjadi bagian dari Tim Inti. Mahasiswa yang dipercaya mengurus mahasiswa lain dan merencanakan seluruh program pelatihan ini dari awal sampai akhir. Selama menjadi tim inti, saya banyak didorong untuk keluar dari comfort zone saya. Saya disini, harus berbicara dan mem-briefing para berpuluh-puluh guru-guru sekolah peserta. Saya harus mem-briefing para mahasiswa lain yang ikut berpartisipasi. Saya harus menjadi seorang fasilitator, untuk program pelatihan siswa sebanyak 3 batch, saya harus menjadi fasilitator untuk para mahasiswa di TFT. Posisi yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, belum pernah saya geluti sebelumnya, dan posisi yang membuat saya harus berbicara di depan minimal seratus peserta pelatihan.

Awal saya menjadi fasilitator, saya membawakan TFT untuk para mahasiswa. Yang terjadi adalah saya setiap kali berbicara berlibet, berbicara terlalu cepat, dan berhubung saya seorang tionghua, maka susunan kalimat saya seringkali lucu dan tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini membuat beberapa kali saya ditertawai oleh teman-teman saya, peserta TFT tersebut. Dan setiap akhir TFT, feedback yang saya terima selalu sama, kritik tentang hal-hal yang telah saya tulis di atas. Saya sangat malu, namun hal ini membuat saya berlatih lebih giat. Saya berlatih berbicara sendiri saat mengemudi sendiri di mobil. Saya berlatih berbicara pelan dan dengan susunan kalimat yang benar saat saya di kamar mandi, saat di kamar tidur, saat menunggu teman ke WC, saat menunggu pacar dandan, saat macet, dan terus menerus saya lakukan di mana pun saya bisa.

Saat harus membawakan sebuah instruksi, saya meminta teman saya mendengarkan saya berlatih dan memberikan masukan. Saya terus mempersiapkan diri saya dengan baik. Alhasil, saat pelatihan tiba, saya berhasil menghilangkan banyak kebiasaan buruk saya. Saya berhasil berbicara di depan banyak orang, membawakan training dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya tidak lagi belibet bicaranya, saya juga bisa lebih pelan berbicara. Saya berhasil mengalahkan ketidakpercayaan diri saya. Dan saya berhasil menjalankan peran saya sebagai fasilitator dengan baik. Terlebih saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri.

Dari seorang yang malu dengan suaranya sendiri, takut berbicara di depan umum, ditolak untuk menjadi staff dalam pelatihan karena dinilai kurang mampu, ditertawakan peserta karena salah bicara, bahasa Indonesia aneh, dll. Sampai akhirnya saat ini saya menjadi trainer yang lancar berbicara di depan umum, berbicara dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahkan saat ini berhasil mendirikan satu biro training sendiri. Semua itu adalah perjuangan yang dilalui dalam waktu yang tidak sebentar dan niat untuk selalu belajar dari kesalahan.

Saya sadar bahwa perjuangan saya masih panjang. Mimpi saya masih jauh di depan, tapi saya selalu percaya, asalkan kita memiliki attitude yang positif, tidak takut “jatuh”, belajar dan terus belajar, serta terus bekerja keras mengejar mimpi kita, mengerjakan dengan baik semua bagian kita. Maka Tuhan akan memberikan kepada kita kesempatan demi kesempatan demi kita mencapai tujuan kita.

Saya harap teman-teman tidak pernah “kalah” dari kehidupan ini dan terus belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Hanya dengan mental yang demikian saya percaya kita baru dapat meraih mimpi kita semua.

See you around,

Let Your Spirit Arise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: