Dream Big, Dream Right!

Flying with Dreams

[Sebuah cerita dari Brigitta Graciela Kartika Andrani]
Mimpi-mimpi saya :
  • Lulus tahun 2012
  • Setelah lulus jadi pramugari Garuda, kalo bisa masuk ke maskapai internasional juga, mungkin ke Singapore Airlines selama kurang lebih 3 -5 tahun
  • Keliling Indonesia
  • Keliling dunia. City I wanna go : Paris, Japan, Yunani, New Zealand, Cayman Island, London, Egypt, Italy,
  • Tinggal di luar negri. City I wanna live : Singapore and Paris
  • Buka daycare untuk anak usia 1 – 5 tahun
  • Sekitar tahun 2011 – 2012 ini udah punya pacar lagi, jadi waktu sidang skripsi ditemenin mama, papa, adek, eyang, dan pacar J
  • Udah punya tunangan waktu jadi pramugari J
  • Menikah antara 3 – 5 tahun lagi, kira – kira tahun 2014 – 2016
  • Punya rumah mewah, modern minimalis
  • Punya mobil lebih dari 1 supaya kalo mau pergi ga repot dan tergantung sama 1 mobil
  • Mau punya rumah yang ada perpustakaan, ruang keluarga, ruang baca, 2 dapur, 1 kamar utama, 2 kamar anak, 1 kamar tamu, 1 kamar main/belajar. Di setiap dinding harus ada foto semua anggota keluarga, dari kecil sampai besar. Ada lampu galeri dan lampu tanam, jadi kesannya elegan.

Saya memiliki banyak sekali mimpi yang akan saya jalani. Saya harap mimpi – mimpi tersebut realistis dan memang tercipta untuk hidup saya.

Dari kecil, saya memiliki mimpi atau cita – cita menjadi seorang pramugari. Entah kenapa, di mata saya seorang pramugari itu begitu anggun dan elegan, tampil ramping, cantik, menarik, sangat elegan dengan pakaiannya yang pas di badan dan menarik sebuah koper hitam, begitu klasik dengan sanggul sederhana di rambut, begitu memukau dengan dandanan ekslusif yang tidak berlebihan tentunya. Membayangkan mereka terbang melintasi pulau dan benua, memikirkan apa yang mereka lakukan di suatu tempat yang baru, menjadi hal yang menarik bagi saya. Sayang sekali, sewaktu kecil gigi saya sangat berantakan sehingga sempat saya sempat urungkan niat untuk menjadi pramugari. Namun tekad itu tetap ada, karena saya memiliki badan yang ramping dan kaki jenjang sejak kecil. Saat itu saya berharap, suatu saat saya akan memakai kawat gigi yang kelak akan mewujudkan mimpi saya menjadi pramugari, karena salah satu syaratnya adalah gigi harus rapi dan tidak memakai kawat gigi. Sedari kecil itu pula, saya sangat menikmati kesempatan apapun untuk pergi ke bandara. Saya merasa, di sanalah saya akan berada. Di dalam pesawat, melayani penumpang dengan segala keanggunan dan pelayanan penuh kepada siapapun yang saya temui di dalamnya.

Saat SMP, saya melupakan niat tersebut karena saat itu saya belum memakai kawat gigi. Saya tertarik dengan dunia psikologi. Apa yang saya tepatnya saya sukai saat itu, jujur saya lupa. Tetapi bidang itulah yang memang ingin saya tekuni. Saya tidak tertarik dengan ilmu fisika dan kimia, terlebih saya juga tidak menyukai ekonomi dan geografi. Kemudian saya melewati masa SMA di Kolese Gonzaga. Di sana saya mengambil jurusan IPS. Saya mengembangkan pelajaran yang wajib ditekuni saat itu, yaitu Sosiologi, Geografi, Ekonomi – Akuntansi, Sejarah, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan sebagainya. Saya mendapat nilai cukup dalam semua bidang tersebut, namun tidak ada yang benar – benar saya sukai. Nilai – nilai tersebut baik hanya karena saya ingin lulus dengan hasil baik. Kemudian saya memikirkan mimpi saya menjadi psikolog atau setidaknya menekuni ilmu psikologi.

Saya mengikuti tes IQ di kelas 1 SMA dan hasilnya kurang memuaskan. Saya tidak direkomendasi untuk masuk psikologi. Saya sempat kecewa, tetapi saya tidak ingin mempercayai hasil tersebut. Saya tidak ingin kuliah di fakultas manapun selain psikologi. Saya sempat pesimis ketika mengetahui FPUAJ hanya menerima 200 mahasiswa baru dari ribuan peminat. “Oh my God, gw kuliah gak nih begini caranya?” Ya, itulah pikiran yang pertama muncul ketika mengetahui hal tersebut. Nyali menciut, pesimis, dan sempat tidak percaya diri.

Kemudian saya terus belajar dan berjuang, hingga akhirnya saya mengikuti tes masuk Psikologi Atma Jaya Jakarta. Saya diterima di gelombang kedua pada tahun 2008. Sejak memiliki cita – cita masuk psikologi, saya memang sudah fokus untuk masuk Atma Jaya karena saya tahu psikologi di kampus itu adalah yang terbaik se-Asia Tenggara. Siapa yang tidak bangga? Saya tidak ingin mauk ke UI atau manapun hanya untuk mengejar nama. Saya ingin mendapat yang terbaik. Saya sempat mengikuti bimbingan tes BTA 8 di satu semester kelas 3. Namun setelah saya masuk Psikologi Atma Jaya, langsung saja saya mengundurkan diri dari bimbel itu dan sama sekali tidak berangan – angan masuk universitas manapun. Satu mimpi saya telah terwujud. Mimpi ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari orangtua dan keluarga lainnya yang selalu mendukung cita – cita saya.

Saat ini saya duduk di semester 6 Fakultas Psikologi Atma Jaya dan menempuh peminatan pendidikan. Saya memiliki ketertarikan khusus dengan anak – anak dari kecil pula. Selama 5 semester, saya selalu berjuang untuk mendapat nilai yang baik di mata kuliah prasyarat pendidikan supaya saya semakin dekat pada anak. Sejak semester 3, saya memiliki keinginan untuk menjadi guru BP atau membuka daycare, yang terpenting adalah profesi apapun yang mendekatkan saya kepada anak.

Sejak semester 4 tahun lalu, niat kecil saya menjadi pramugari muncul kembali karena saya dikenalkan oleh teman papa yang seorang pramugari Garuda. Dari cerita – ceritanya, saya mendapati beliau sudah berkelana ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Suatu pengalaman yang menyenangkan, bukan? Keliling dunia tanpa membayar, justru saya akan digaji, mendapat uang kosmetik, mendapat pelajaran baru mengenai etika pramugari, mendapat pelajaran tentang cara berdandan yang baik dan benar, dan sebagainya. Bagi saya, pengalaman tersebut tidak patut saya lewatkan. Satu lagi mimpi saya yang terwujud, saya sudah memakai kawat gigi sejak akhir tahun 2008. Terimakasih papa, Engkau membantuku menempuh cita – citaku nanti.

Rasanya menyenangkan memiliki mimpi, dan lebih menyenangkan lagi ketika berhasil mencapainya satu per satu. Ada kepuasan batin yang tidak dapat ditukar dengan apapun ketika memiliki mimpi yang realistis, terlebih ketika mampu merealisasikannya.

Untuk masuk ke fakultas psikologi maupun menjadi pramugari, tentu saja ada halangan berupa stigma atau pandangan negatif orang lain mengani cita – cita tersebut. Dua kakek (Mbah dan Eyang Kakung, sebutan saya pada beliau) saya berasal dari jurusan IPA. Mbah adakah seorang Insiyur, dan Eyang Kakung (alm) adalah seorang purnawirawan tentara. Papa adalah insinyur teknik, sedangkan Mama adalah insinyur teknologi pertanian. Walaupun orangtua saya sangat democrat dan membebaskan saya untuk memilih jalan hidup, namun tidak begitu dengan Eyang Kakung. Beliau selalu tidak mengerti, apa yang akan saya lakukan dengan menekuni psikologi? Dalam stigmanya, karena saya anak IPS, saya harus masuk STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Saya masuk IPS pun sebenarnya kurang disetujui oleh beliau. Namun seiring berjalannya waktu, dengan nilai akademis saya yang juga cukup memuaskan, dan saya membantu beliau memahami apa itu psikologi, akhirnya beliau mengerti apa alasan saya menekuni bidang ini.

Lain halnya dengan Eyang Uti (sebutan untuk nenek dari Mama). Ketika beliau mengetahui niat kuat saya menjadi pramugari, beliau selalu mengatakan, “bukannya pramugari itu jadi pelayan, mbak? Cuma keliatannya aja anggun, tapi sebenernya melayani orang kayak pembantu kan.” Atau “pramugari itu biasanya suka dilecehkan lho, apalagi kalo sama penumpang asing.” Hal – hal tersebut sempat membuat saya kesal dan marah, namun saya tetap menjelaskan, “Melayani orang itu enak lho, apalagi sambil terbang. Udah gitu nilai plusnya, bisa jalan – jalan keliling Indonesia, kalo masuk maskapai asing bisa keliling dunia, dibayar, dapet uang kosmetik, dll. Terus kan mereka selalu keliatan anggun, selalu menarik perhatian, selalu cantik kemana pun”. Kalimat ini saya lontarkan pada beliau dan akhirnya beliau mengerti cita – cita saya. Lagipula, papa sudah membiayai kawat gigi yang hingga saat ini saya gunakan, kenapa harus saya urungkan cita – cita yang satu ini karena stigma tersebut?

%d bloggers like this: